Kamis, 27 Maret 2014

filsafat


Bukti pertama dari kelima bukti adanya Allah yang diberikan oleh Aquinas ialah bukti dari gerakan, yang juga terdapat didalama Aristoteles ( metaphysics, Buku 12; Psysics, Buku 8) dan digunakan oleh Maimonides dan Alvertue Agung. Melalui persepsi indrawi kita yahu bahwa benda-benda di dunia bergerak, dan gerakan ini merupakan kenyataan. Gerakan di sini simengerti di dalam pengertian luas, yaitu sebagai reduksi dari potensi ke aktus, dan Aquines, mengikuti aristoteles, berpendapat bahwa suatu benda tidak dapat direduksi dari potensi ke aktus kecuali oleh sesuatu yang telah berada didalam aktus. Dalam pengertian ini, “segala sesuatu yang bergerak digerakan olehsesuatu yang lain”. Bila yang lain itu juga bergerak, maka ia juga digerakan oleh pelaku yang lain. Karena seri tidak berhingga tidak mungkin, akhirnya kita sampai kepada sesuatu penggerak yang tidak digerakan, yaitu penggerak utama, “dan semua orang tahu bahwa penggerak itu adalah Allah.
Bukti kedua, yang diberi inspirasi oleh buku kedua dari Metaphysics nya Aristoteles, yang juga digunakan oleh Avicenna dan Albertus, juga berangkat dari dunia duniawi, tetapi kali ini dari tata atau seri sebab effisien. Tidak ada sesuatupun yang bisa menjadi sesuatu yang tertentu ini, benda tersebut harus ada sebelum dirinya sendiri. Sebaliknya, tidak mungkin untuk bergerak kedalam seri sebab-sebab effisien tanpa batas. Maka harus ada suatu sebab effisien pertama, “yang semua orang menyebutnya Allah”.
Bukti ketiga, yang diambil alih oleh Maimonides dari Avicenna dan diperkembangkan, mulai dari kenyataan bahwa beberapa pengada menjadi ada dan hilang, yang berarti bahwa mereka dapat ada dan dapat tidak ada, bahwa mereka kontingen dan tidak mutlak atau niscaya, sebeb seandainya mutlak mereka akan selalu ada dan tidak pernah menjadi ada ataupun musnah. Berdasarkan ini Aquinas berpendapat bahwa harus ada sesuatu pengada yang mutlak, yang menjadi alasan mengapa pengada-pengada kontingen bisa menjadi ada.
Bukti keempat, disarankan oleh penyelidikan di dalam Metaphysics Aristoteles dan pada hakekatnya berpendapat di dalam Agustinus dan Anselmus. Bukti ini mulai dari tingkat-tingkat kesempurnaan, kebaikan, kebenaran, dst., yang diketemukan di dalam benda-benda dunia ini, yang memungkin kan seseorang membuat perbandingan, misalnya, “ini lebih indah dari pada itu”, “ini lebih baik dari pada itu”. Dengan mengandaikan bahwa perbandingan seperti itu mempunyai dasar objektif, Aquinas berpendapat bahwa tingkat-tingkat kesempurnaan secara mutlak mengandaikan adanya sesuatu yang terbaik, paling benar, dst., yang juga merupakan pengada tertinggi.
Sejauh ini argumentasi hanya sampai kepada sesuatu yang secara relative terbaik. Bila seseorang dapat membuktikan bahwa benar-benar ada tingkat-tinggat kebenaran, kebaikan dan pengada, suatu hierarki pengada, maka harus ada satu pengada atau beberpa pengada yang tertinggi secara relative berdasarkan perbandingan. Tetapi ini tidak cukup untuk membuktikan adanya Allah. Maka Aquinas meneruskan berargumentasi bahwa apa yang tertinggi,  misalnnya di dalam kebaikan, harus merupakan sebab dari kebaikan didalam semua hal. Selanjutnya, sejauh kebaikan, kebenaran dan ada dapat ditukar, harus ada sesuatu pengada tertinggiyang merupakan sebab dari ada, kebaikan, kebenaran, dan dari semua kesempurnaan di dalam setiap pengada lain, “dan kita menyebut pengada ini Allah”.
Bukti kelima, merupakan bukti taologis. Menurut Aquinas, kita dapat mengamati bahwa benda-benda inorganic mempunyai tujuan tertentu dalam aktivitas mereka, dan Karena hal ini selalu atau sangat sering terjadi, maka aktivitas yang bertujuan tertentu itu tidak mungkin hanya berdasarkan kebetulan, tetapi harus merupakan hasil dari suatu maksud. Tetapi benda-benda inorganic tidak mempunyai pengetahuan : maka mereka tidak dapat mengarah kepada tujuan tertentu bila mereka tidak diarahkan oleh seseorang yang berbudi dan mempunyai pengetahuan, sebagaimana “ anak parah diarahkan oleh pemanahnya”. Maka ada suatu pengada yang berbudi, yang mengarahkan sama benda-benda kodrati pada suatu tujuan, “dan kita menyebut pengada itu Allah”. Pembuktian ini diberikan di dalam Summa Theologica.
Di dalam Summa coptra Gantile Aquines merumuskan pembuktian dengan cara yang sedikit berbeda. Dia mengatakan bahwa jika banyak hal dengan sifat-sifat yang berbeda dan bahkan bertentangan bekerjasama menuju suatu perwujudan dari suatu tatapan, hal ini tentu terjadi berkat penyebab atau penyelenggaraan yang berbudi, “dan kita menyebutnya Allah”.
Bila bukti yang diberikan di dalam Summa Thoelogics menekankan bertujuan intern dari benda inorganic, bukti yang diberikan di dalam Summa contra Gentiles lebih menekankan kerjasama dari banyak objek di dalam perwujudan dari tatanan atau harmoni dunia. Dari dirinya sendiri bukti mengarah kepada seorang ‘designer’ atau pemerintahan atau Arsitek dari alam semesta; penalaran lebih lanjut diperlukan untuk  memperlibatkan bahwa Arsitek ini adalah juga pencipta.

arikel ini dibuat di Jakarta Pusat (Tanah Abang) pada tanggal 27 maret 2013

Kamis, 13 Maret 2014

Ilmu Sosial : Seni dan Agama


Seni

Seni adalah sebuah ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat dijelaskan sebagai suatu keindahan. Jadi definisi, seni adalah bagian dari kebudayaan yang ada dan mempunyai unsure keindahan dan keelokan, unsure itu biasanya ada dalam pikiran seseorang.

Bentuk seni
Seni mempunyai 3 bentuk, diantaranya :
1.       Seni yang dinikmati melalui pendengaran : music, puisi, sastra dan lain-lain.
2.       Seni yang dinikmati melalui penglihatan : lukisan, poster, seni bela diri dan lain-lain.
3.       Seni yang dinikmati melalu penglihatan dan pendengaran : konser music, pagelaran dan film.

Macam-macam seni :
v  Seni estetika
Seni ini dilihat dari keindahan itu sendiri, biasanya seni dari maha karya lukisan, ataupun hasil dari fotografer. Contohnya : 
gambar 1.1 

v  Seni music
Seni yang disusun melalui nada-nada dan suara yang mengandung irama dan harmonisasi. Contohnya : 
gambar 1.2 musik klasik
v  Seni rupa
Cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Konsepnya melalui konsep titik, garis bidang, bentuk, voleme, tekstur dan pencahayaan dengan acuan estetika. Contohnya : 
gambar 1.3

v  Seni pertunjukan
seni ini melibatkan aksi individu ataupun kelompok. performence biasanya melibatkan ruang, waktu, penonton dan senimannya.Contohnya :

seni akrobat : 
,
gambar 1.4 


       tari : 
gambar 1.4.1


        Pentas musik : 
gambar 1.4.2

         Sulap : 
gambar 1.4.3


        teater : 
gambar 1.4.4


v  Seni tradisional
seni tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum/puak/suku/bangsa tertentu. Tradisional adalah aksi dan tingkah laku yang keluar alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang yang terdahulu. Tradisi adalah bagian dari tradisional namun bisa musnah karena ketidamauan masyarakat untuk mengikuti tradisin tersebut. Contohnya :
Tarian adat :
Tari piring : 
gambar 1.5


Tari payung : 
gambar 1.5.1


Tari saman : 
gambar 1.5.2


wayang ; 
gambar 1.5.3


Gamelan : 
gambar 1.5.4


pencak silat : 
gambar 1.5.5


v  Seni kontemporer
Seni ini berkembang karena adanya dampak modernisasi. Contohnya konser music yang sedang happening sekarang ini.

disari dari :



artikel ini dibuat di jakarta pusat ( Tanah Abang ) pada tanggal 13 maret 2014




Agama

Pengertian agama :
Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak” dan “gama” yang berarti “kacau”. Denga demikian agama adalah sejenis peraturan yang bertujuan untuk menghindari manusia dari kekacauan, sertamengantarkan manusia menuju kerteraturan dan ketertiban. Agama lebih kepada kepercayaan kita terhadap Tuhan semesta alam.

Karakteristik Agama :
1.       Memiliki kepercayaan agama, yaitu keyakinan atau iman yang kukuh dan tidak tergoncang pada tuhan ataupun yang disembah didalam agama-agama.
2.       Memiliki symbol agama, symbol memiliki kandungan arti dan makna dibaliknyayang hanya dimengerti oleh kelompok agama yang bersangkutan.
3.       Memiliki praktek agama, misalkan : sholat, berdoa, dan lain-lain.
4.       Memiliki umat dan penganut agama.
5.       Memiliki pengalam keagamaan.

Fungsi agama :
Fungsi agama itu sendiri adalah sebagai berikut :
1.       Sebagai sumber pedoman hidup bagi individu maupun suatu kelompok.
2.       Mengatur tata cara hubungan antara manusia dengan Tuhan dan menusia dengan manusia lainnya.
3.       Untuk menuntun kita tentang apa yang benar dan apa yang salah.
4.       Pedoman negungkapkan rasa kebersamaan.
5.       Pedoman rasa keyaninan.
6.       Pedomann keberadaan.
7.       Memberikan identitas manusia sebagai umat beragama.
Kelompok Agama :
Ada Lima kelompok agama terbesar, diantaranya :

1.    Buddha


gambar 2.1 tempat ibada agama buddha

Kitab suci Buddhisme :   
Kitab suci yang digunakan dalam agama Buddha Therayada adalah kkitab suci Tripitaka yang dikenal sebaga Kanon Pali (pali Canon). Kitab suci agama Buddha yang paling tua, yang diketahui hingga sekarang, tertulis dalam bahasa Pali/Magadhi Kuno, yang terbagi dalam 3 kelompok besar, yaitu : Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka.
gambar 2.2 kitab suci agama buddha

2.    Hindu
gambar 3.1 ibada agama hindu 

3.    Islam
gambar 4.2 masjid

gambar 4.2.1 al-qur'an

4.    Kristen
gambar 5.2.2 tempat ibadah agama kristen 
5.       konghucu
gambar 5.2.3 tempat ibadah agama konghucu

reffleksi : 
saya ingin berbagi tentang agama saya. saya ini orang muslim.di agama saya untuk menjadi orang muslim setiap orang diharuskan untuk membaca 2 kalimat syahadat. lalu setelah itu mereka harus menjalani kewajibannya sebagai umut islam. diantaranya adalah sholat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, dan menyisihkan sebagian hartanya untuk bersedekah dan zakat. selain itu di agama saya mempunyai ciri khas :

1. shalat jum'at.
     shalat jum'at ini wajib dilakukan bagi laki-laki. 

2. puasa dibulan Ramadhan.
    puasa dibulan Ramadhan adalah salah 1 kewajiban bagi orang muslim. puasa ramadhan ini dilakukan selama 29/30 hari. puasa adalah menahan diri dari berbgai hal, misalnya : menahan diri dari rasa haus, rasa lapar, dan menahan diri dari emosi. puasa dibulai dari datangnya fajar hingga adzan magrib.

3. shalat taraweh
    sehabis buka puasa, pas di adzan isya saya beserta keluarga biasanya melanjutkan untuk shalat berjama'ah di masjid untuk melakukan shalat isya, shalat taraweh, dan shalat witir. 

4. idhul fitri
   idhul firi adalah hari besar bagi setiap umat islam, yaitu untuk merayakan kemenangannya selama berpuasa dibulan ramadhan. di idul fitri ini juga menjadi agang untuk bersilahturahmi saya beserta sodara-sodara saya.

5. idhul adha.


 artikel ini disarikan dari :
artikel ini dikerjakan di jakarta pusat ( Tanah Abang ) pada tanggal 17 maret 2014

artikel ini dapat membantu sekaligus menambah wawasan bagi kalian yang membaca, terima kasih :)

Quotes



#QoutesOf Psychology

Rabu, 12 Maret 2014

Ilmu Sosial : Gender, Etnik, Budaya dan Bahasa


Gender
 Kata Gender berasal dari bahasa inggris berarti jenis kelamin. Gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak pada individi sebagai perbedaan yang tampak dari segi nilai dan tingkah laku. Gender adalah suatu aturan ataupun norma pada setiap individu yang berhubungan dengan jenis kelamin dalam suatu system masyarakat. Karena itu gender sering kali di sangkut pautkan dengan jenis kelamin ataupun sex. Begitu pula pada prilaku dan peranan mental seseorang.“Gender merujuk pada peranan dan tanggung jawab individu yang diciptakan dalam keluarga, masyarakat dan budaya” (UNESCO, 2007). Peranan gender adaah harapan mengenai perilaku yang tepat, dan sikap. Peran gender jelas dalam pekerjaan dan bagaimana kita bereaksi terhadap orang lain.

·         Konstruksi Gender Sosial

Peran gender didefinisikan sebagai harapan akan perilaku yang tepat, sikap, dan kegiatan yang dilakukan oleh pria dan wanita. Banyak sosiologis yang tertarik untuk mempelajari peran gender yang membawa laki-laki dan wanita mengeluarkan perilaku yang berbeda. Gender tidak hanya mengambil peran dalam hal yang berhubungan dengan pekerjaan saja, tetapi lebih kepada bagaimana kita dapat berinteraksi dengan orang lain.

Dalam sebuah penelitian stereotip peran gender, beberapa pelajar diminta untuk berperilaku sebagaimana yang mereka rasa hal itu melanggar norma gender. Hasilnya adalah bagi pelajar wanita, norma yang melanggar gendernya seperti membukakan pintu untuk pria, berbicara dengan pengetahuan luas tentang otomotif, dan lain-lainnya. Sedangkan bagi pelajar pria, norma yang melanggar gendernya seperti memakai kuteks, menangis di depan umum, melakukan pedicure, dan lain-lainnya. Salah satu penyakit atau kelainan yang berhubungan dengan gender adalah homophobia, yaitu sebuah rasa takut yang timbul akibat prasangka buruk terhadap homoseksualitas.

·         Peran Wanita

Hasil uji dari sebuah buku yang terbit dari tahun 1970 sampai 1990 menemukan bahwa wanita cenderung masih berperan kuat dalam peran tradisional, seperti ibu rumah tangga, nenek, atau sukarelawan. Walaupun para wanita di zaman sekarang ini sudah berfikiran lebih modern dan luas untuk memiliki karir dan mencapai penghargaan kuat dari lingkungannya, kesuksesan yang ia raih itu masih belum sebanding dan sepenting jika identitasnya adalah laki-laki.

·         Gennder dan Stratifikasi Sosial
Macionis (1989:328) mendefenisikan stratifikasi gender yaitu sebagai ketimpangan dalam pembagian kekayaan, kekuasaan dan privelese antara laki-laki dan perempuan. Menurut Macionis, ketimpangan ini dijumpai diberbagai bidang; di dunia kerja, dalam pelaksanaan pekerjaan rumah tangga, dibidang pendidikan, di dibidang politik, selain itu perempuan lebih cenderung menjadi korban kekerasan laki-laki dari pada sebaliknya.Adanya stratifikasi gender (Sunarto, 2000:116) telah mendorong lahirnya gerakan sosial di kalangan kaum perempuan, yang bertujuan membela dan memperluas hak-hak kaum perempuan. Gerakan ini dinamakan fenimisme. FeminismeMenurut Giddens (Sunarto, 2000:116), feminisme telah bermula di Perancis pada abad ke 18 dan kemudin menyebar ke negara-negara lain dibenua Eropa, Amerika, Afrika dan Asia. Macionis (1989:336-337) mengatakan bahwa feminisme merupakansuatu cara pandang baru dan berbeda mengenai diri kita sendiri danmasyarakat kita. Feminisme merubah pola-pola sosial yang konvensioanl yang diterima sebagaiman apa adanya oleh masyarakat. Dalam konteks ini, feminisme merupakan suatu tantangan baru khususnya terhadap nilai-nilai kekuasaan dan dominasi maskulinisme terhadap masyarakat yang patriarkhi. Oleh karena perjuangan feminisme bertujuan untuk menyamakan kedudukan sosial laki-laki dan perempuan, maka feminisme sering dianggap mereintegrasi kemanusiaan. Artinya kemanusiaan laki-lakidan perempuan adalah sama, dan oleh karena itu sudah seharusnyakesempatan-kesempatan sosialpun harus sama pada laki-laki dan perempuan.

·         Sosialisasi Gender
Sosialisasi peran gender mulai dilakukan dikeluarga, kelompok-kelompok sebaya, dilembaga-lembaga  pendidikan dan juga media masa. Institusi dan kelompoks sosial di atas seringkali memberikan peran sosial yang berbeda kepada laki-laki dan perempuan

·         Perspetif sosiologi terhadap stratifikasi gender
Perspektif Konflik Randal Collins (Jeffries, 1980:198) mengatakan bahwa kepemilikan alat produksi memungkinkan kelas yang satu mengeksploitasi kelas yang lainnya. Pada umumnya kelas yang berkuasa itu adalah laki-laki. Ini berarti laki-laki mendominasi wanitaberdasarkan kepemilikan alat-alat produksi. Dalam masyarakat tradisional di mana pemanfaatan teknologi masih rendah tidak ada pembagian kerja yang signifikan antara laki-laki dengan wanita, namun tidak demikian halnya menurut Collins dalam masyarakat.

·         Pelecehan Seksual : 
Perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidakdiinginkan,  termasuk permintaan untuk  melakukan seks,  dan perilaku lainnya yang secara verbalataupun fisik merujuk pada seks.

Status Wanita di Seluruh DuniaGambaran tentang status wanita di dunia sekarang ini adalah adanya perbedaanstatus yang jelas antara pria dan wanita, seperti dalam pendidikan, lowonganpekerjaan, kesehatan, dan hak asasi manusia. Sampai sekarang wanita masihdianggap ‘kelas kedua’, direndahkan, dan kurang dihargai. Contohnya di India,para  janda  yang  ditinggal  suaminya  hanya  dianggap  sebagai  ‘properti’dikeluarganya  dan  pada  akhirnya  menjadi  pelayan  yang  tidak  dibayar.  Ada hubungan  antara  kekayaan  industri  nasional  dengan  kemiskinan  wanita  dinegara berkembang, perkembangan ekonomi nasional dikontrol dan dieksploitasioleh  negara  industri  dan  perusahaan  multinasional  di  negara  tersebut.Kebanyakan yang bekerja sebagai buruh adalah wanita dengan jam kerja yang tinggi tetapi mendapat bayaran yang murah.Wanita sebagai tenaga kerja di amerika

- Buruh
Banyak  dari  wanita,  dari  yang  belum menikah,  sudah menikah,  belummempunyai  anak,  dan  sudah mempunyai  anah bekerja  sebagai  buruh.59% dari  wanita bekerja  di  luar  rumah menurut  survei  yang dilakukanpada  tahun  2004,  dan  mayoritasnya  bekerja  sebagai  buruh.  Selainitu,wanita  kurang  dihargai  di  dalam  pekerjaan  yang  bisa  didefinisikansebagai  ‘pekerjaan  pria’,  dimana  pekerjaan  pria  tersebut  memiliki  gajiyang lebih besar.

- Kompensasi
Dalam beberapa pekerjaan, walaupun pekerjaan yang dilakukan oleh priadan wanita itu sama, tetapi penghasilan yang dihasilkan oleh pria lebihbesar  dibanding   yang  dihasilkan  oleh  wanita.  Dan  dalam  beberapapekerjaan pula, seperti perawat, guru, dan pustakawan, pria merasa lebihnyaman dan diuntungkan ketika bekerja di pekerjaan yang didominasi olehwanita.

- Konsekuensi Sosial di Pekerja Wanita
Banyak wanita yang mengalami tantangan dalam masalah pekerjaan dankeluarga. Karena dengan bekerjanya para wanita dibidang pekerjaan yangseharusnya dikerjakan oleh pria  ini  akan mengancam pekerjaan rumah yaang  seharusnya  dikerjakan  oleh  wanita,  masalah  yang  seringdiperbincangkan saat ini adalah jika para wanita mengambil lahan kerjapria maka pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan oleh wanita akandikerjakan  siapa? perhatian  dan  kepedulian  terhadap  anakpun  jugaterancam.

·         Activity Theory
Teori aktivitas menyarankan orang tua untuk tetap aktiv dan tetap berinteraksi dengan lingkungan sosial. Seseorang yang berumur 70 tahun mungkin tidak memiliki keinginan & atau kemampuan untuk melakukan berbagai macam peran sosial seperti layaknya orang berumur 40an, tapi mereka orang-orang tua tersebut memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dalam lingkungan sosial. Tetap aktiv menunjukan meningkatkan kesehatan mereka yang lanjut usia.

·         Disengagement teory
Pada teori ini menjelaskan bahwa semakin mendekatnya seseorang kepada kematian, peran mereka di lingkungan sosial akan semakin berkurang. Peran-peran tersebut nantinnya akan di ambil oleh mereka yang lebih muda

·         Sosialisasi
Sosialisasi adalah sebuah proses yang berlangsung secara jangka panjang. Kita tak mengalami suatu hal secara sama terus menerus dalam kehidupan. Cara kita bersikap pun berubah ubah sejalan dengan bertambahnya usia, jadi “life course” dapat dikatakan mempengaruhi sikap kita dalam kehidupan.Transitional stage. Dimulai saat individu memasuki kehidupan dewasa (keluar dari rumah orang tua, mulai karir, menikah). Lalu second transitional period, the midlife transition, dimulai ketika menginjak usia 40 (midlife crisis).

·         The sandwich generation.
Orang dewasa yang mempertemukan dan memenuhi kebutuhan orang tua dan anak-anak mereka. (3 generasi, = sandwich) Anak-anak : membutuhkan arahanOrang tua : membutuhkan perhatian karena mungkin ada health or economic problems.Dalam hal ini perempuan lebih menyediakan “care” dengan porsi sebesar 60%.The last major transition pada manusia : setelah usia 60 tahun. (diberi health care dll) sehingga pada tahap transisi ini, terjadi dramatic changes in people’s lives.

·         Adjusting to retirement.
Ada 3 fase :
1. Pre retirement (periode seseorang mempersiapkan retirement)
2. The near phase ( when the person estabilishes a specific departure date from his / her job)
3. The honeymoon phase periode euphoric, in which the person persues activity yang mereka tak pernah punya waktu untuk itu sebelumnya.

·         Naturally Occurring Retirement Communities (NORCs)
Naturally Occurring Retirement communities (NORCs) adalah sebuah komunitas yang berkembang secara alami dari waktu ke waktu yang sebagian besar warga usia lanjut / pensiunan (usia 60 tahun atau lebih). “ NORCs bisa sekecil satu bangunan apartemen atau sama besar dengan lingkungan di kota besar. “Tahap kekecewaan, di mana pensiunan merasakan kekecewaana tau bahkan depresi karena mereka menghadapi kehidupan baru yang mungkin termasuk penyakit atau kemiskinan

- Fase reorientasi , yang melibatkan pengembangan pandangan yang lebih realistis alternatif pension.

- Tahap stabilitas, periode di mana seseorang telah belajar untuk menghadapi kehidupan setelah pensiun dalam waktu yang wajar dan nyaman.

- Fase terminasi , yang dimulai ketika orang tak dapat lagi terlibat dalam kegiatan dasar sehari-hari seperti perawatan diri dan pekerjaan rumah tangga.

·         Usia stratifikasi di Amerika Serikat
Kekayaan dan pendapatan ada variasi yang signifikan dalam kekayaan dan harta di antara bangsa orang tua. beberapa individu dan pasangan menemukan diri mereka miskin sebagian karena pensiun tetap dan melonjaknya biaya perawatan kesehatan. Namun demikian, sebagai sebuah kelompok, orang tua di negara-negara bersatu adalah tidak homogen non miskin.

·         Ageism
Phsyician robert butler menjadi prihatin 30 tahun yang lalu ketika ia mengetahui bahwa pembangunan perumahan di dekat rumahnya di washington metropolitan, D. C dilarang orang tua. butler berdasarkan usia seseorang. misalnya, kita dapat memilih untuk menganggap bahwa seseorang tidak dapat menangani rigorus sebuah pekerjaan dengan otoritas karena dia adalah "terlalu muda". ageism sangat sulit untuk tua, karena penerima setidaknya muda prasangka tahu bahwa dalam waktu mereka akan 'cukup lama "bagi banyak orang, usia tua melambangkan penyakit.

The Battle over Abortion from a Globalperspective

·         The issue
Masalah aborsi semakin banyak diperbincangkan, ketika  proses aborsi di Amerika
serikat diperbolehkan oleh hukum. Yang dikenal dengan nama Roe v. Wade. Menurut mereka wanita berhak memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri, termasuk aborsi.

·         The settings
Dengan di adakannya keksepakatan tentang aborsi, badan hukum memutuskan agar proses aborsi sebaiknya diketahu oleh pihak orang tua. Namun, pihak lain tidak sependapat. Menurutnya, remaja putri yang melakukan aborsi, tidak perlu membesar-besarkan masalah itu dengan orang tuanya.

Tidak hanya itu, bahkan para dokterpun mengijinkan pasiennya untuk mengonsumsi pill untuk aborsi.

·         Sociological insight
Ilmuwan sosiologi memandang gender dan tingkat sosial sebagai isu aborsi. Menurut Luker, wanita boleh melakukan aktivitas sosial seperti bekerja di kantor dan sebagainya. Ia tidak memandang gender spade ebagai pembatas para wanita untuk berakktivitas diluar rumah.
Berbeda dengan pandangan masyarakat lain. Mereka menekankan bahwa pria lebih pantas untuk melakukan aktivitas diluar rumah sedangkan wanita hanya boleh bekerja dirumah mengurus rumah tangga dan anak-anak.
Tingkat sosial juga termasuk isu aborsi. Keluarga yang kurang mampu akan sulit untuk menjalankan proses aborsi, hal itu disebabkan karena kurangnya financial dan obat-obatan saat melakukan aborsi. Pada tahun 2001 hanya 6% dokter yangrela melakukan proses aborsi tanpa syarat seperti pembayaran dan lain-lain.

·         Policy initiative
Pada akhirnya sekitar tahun 1973, hokum memutuskan untuk membatasi proses aborsi dan menghilangkan program penggunaan bayi sebagai bahan percobaan.
   
·      Sifat-sifat gender dalam mengasosiasikan
·         Bagi laki-laki :
Laki-laki harus mempunyai sifat yang maskulin, agresif, berani dan dominan.
·         Bagi prempuan :
Perempuan haruslah mempunyai sifat feminism, lembut, manis, emosional, dan penerut.
·      
·         Peran gender bagi prempuan
Citra diri dapat berkembang pada pria dan wanita, hal itu yang dapat membedakan peranan wanita dengan peranan laki adalah sebagai berikut :
1.       Dapat mengidentifikasikan dengan jenis kelamin yang sama. Hal ini merupakan ingin merasa sama dengan seseorang yang diidentifikasikan.
2.       Keluarga
3.       Media masa

·         Peranan gender bagi laki-laki :
Anak laki-laki yang berhasil beradaptasi dengan standar budaya maskulinitas dapat tumbuh menjadi orang ekspresif yang tidak bisa berbagi perasaan dengan orang lain
Anak laki-laki yang berhasil beradaptasi dengan standar budaya maskulinitas dapat tumbuh menjadi orang ekspresif yang tidak bisa berbagi perasaan dengan orang lain.

Perspektif lintas budaya
·         Stratifikasi gender dalam setiap masyarakat membutuhkan:
Sosialisasi individu menjadi peran gender tradisional dalam keluarga.
·         Setiap masyarakat berhak menolak dan menentang stereotip.

Stratifikasi gender
Diferensiasi jender memberikan kontribusi untuk stabilitas sosial. Contohnya :
1.       Ekspresif: kepedulian terhadap pemeliharaan keharmonisan dan urusan emosional internal
Keluarga
2.       Perantaraan: penekanan pada tugas, fokus pada tujuan yang lebih jauh, dan kepedulian untuk hubungan eksternal antara keluarga seseorang dan lembaga sosial lainnya

Wanita, mayoritasnya adalah tertindas. Prilaku ini karena banyaknya lecehan yang dialami wanita dari lingkungan sekitar.

disarikan dari :

Daftar Pustaka

Schaefer, Richard T (2008). Sociology a Brief Introduction (7th ed.). Boston: McGraw Hill
 Slide Binusmaya. (2013). Human Diversities 1: Language, Communication, Culture, and Ethnicity. Jakarta : Bina Nusantara University
https://www.youtube.com/watch?v=hxMsBcTdBQk&feature=youtu.be (short movie buatan kita)
artikel ini dibuat di Jakarata Pusat (Tanah Abang), pada tanggal 12 maret 2014


Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sanksekerta yaitu buddhayah. Yang diartikan dengan hal-hal yang bersangkut paut  dengan budi dan akal manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dari masa ke masa dan dianut oleh manusia zaman sekarang. Menurut Melville J. Herkovits, budaya adalah sesuatu yang superorganic, karena dapat diwariskan secara turun temurun. Sedangkan menurut Edward B. Taylor budaya adalah hal komplek yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat-istiadat, kemampuan, kebiasaan, atau suatu hal yang dimiliki manusia sebagaianggota masyarakat.
Berdasarkan wujudnya, kebudayaan dapat dibagi 2 yaitu kebudayaan abstrak dan kebudayaan konkret.
1.       Kebudayaan yang bersifat abstrak ini letaknya ada didalam piker manusia sehingga  tidak dapat diraba atau difoto. Contohnya : nilai-nilai, norma, peraturan, dan cita-cita.
2.       Kebudayaan konkret, wujudnya berpola dari tindakan atau perbuatan dan aktivitas manusia dalam masyarakat. Kebudayaan jenis ini dapat diraba, dilihat, diamati disimpan ataupun difoto. Contohnya : prilaku, bahasa , dan materi.
Unsur-unsur kebudayaan :
Bronislaw Malinowski menyebutkan 4 unsur kebudayaan, yakni :
1.       System norma-norma yang memungkinkan kerja sama antara anggota masyarakat.
2.       Organisasi ekonomi.
3.       Alat-alat lembaga atau petugas pendidikanseperti keluarga
4.       Organisasi kekuatan
Clyde kluckhohn menyebutkan 7 unsur kebudayaan, yakni :
1.       Perlengkapan dan peralatan hidup manusia (pakaian, rumah, alat rumah tangga, sampai ke transportasi)
2.       Mata pencarian hidup dan system-sistem ekonomi ( pertanian, perternakan, system produksi dan system distribusi)
3.       System kemasyarakatan ( hokum, perkawinan dan politik )
4.       Bahasa (lisan dan tertulis)
5.       Kesenian
6.       Religi
Unsure-unsur ini adalah unsure pokok yang disebut unsure kebudayaan yanhg universal.
Fungsi kebudayaan :
Sebagian besar kebutuhan masyarakat dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Berikut ini adalah fungsi kebudayaan bagi manusia.
1.       Hasil karya manusia melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan. Teknologi memili sedikitnmya dua kegunaan, yakni melindungi masyarakat dari ancaman lingkungannyadan memberikan kemungkinan kepada masyarakat untuk memanfaatkan alam.
2.       Karsa masyarakat yang merupakan perwujudan norma dan nilai-nilai sosial dapat menghasilkan tata tertib dalam pergaulan kemasyarakatan. Karsa merupakan daya upaya manusia uuntuk melindungi diri terhadap kekuatan-kekuatan lain.
3.       Sebagai pola prilaku yang merupakan cara masyarakat untuk bertindak atau berkelakuan yang merupakan cara masyarakat bertindak yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat.
Karakteristik kebudayaan :
Secara umum setia kebudayaan memiliki karakteristtik tersendiri. Diantaranya adalah kebudayaan adalah milik bersama, merupakan hasil belajar, didasarkan pada lambing, dan terintegrasi.
Sifat kebudayaan :
1.       Akulturasi : berpadunya 2 unsur kebudayaan atau lebih membentuk kebudayaan baru dengan menghilangkan cirri kepribadian masing-masing.
2.       Asimilasi : pembaharuana 2 unsur kebudayaan berbeda yang menghasilkan suatu unsure yang baru.

disarikan dari :
http://www.lintasberita.web.id/pengertian-budaya-menurut-para-ahli/
kun maryati, juju suryawati. (2006). sosiologi untuk SMA/MA kelas 2. esis.
artikel ini ditulis di Jakarta Pusat (Tanah Abang), pada tanggal 12 maret 2014


Etnik
Definisi etnik diatas menjelaskan pembatasan-pembatasan kelompok etnik yang didasarkan pada populasi tersendiri, terpisah dari kelompok lain, dan menempati lingkungan geografis tersendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Seperti misalnya, etnik Minang menempati wilayah geografis pulau Sumatera bagian barat yang menjadi wilayah provinsi Sumatera Barat saat ini dan beberapa daerah pengaruh di provinsi sekitar. Lalu etnik Sunda menempati wilayah pulau jawa bagian barat. Dan etnik Madura menempati pulau madura sebagai wilayah geografis asal.

Sebuah kelompok etnik pertama kali diidentifikasi melalui hubungan darah. Apakah seseorang tergabung dalam suatu kelompok etnik tertentu ataukah tidak tergantung apakah orang itu memiliki hubungan darah dengan kelompok etnik itu atau tidak. Meskipun seseorang mengadopsi semua nilai-nilai dan tradisi suatu etnik tertentu tetapi jika ia tidak memiliki hubungan darah dengan anggota kelompok etnik itu, maka ia tidak bisa digolongkan anggota kelompok etnik tersebut. Seorang batak akan tetap menjadi anggota etnik batak meskipun dalam kesehariannya sangat ‘jawa’. Orang Jawa memiliki perbendaharaan kata untuk hal ini, yakni ‘durung jawa’ (belum menjadi orang jawa yang semestinya) untuk orang-orang yang tidak menerapkan nilai-nilai jawa dalam keseharian mereka. Dan menganggap orang dari etnik lain yang menerapkan nilai-nilai jawa sebagai ‘njawani’ (berlaku seperti orang jawa) (Suseno, 2001). Meskipun demikian orang itu tetap tidak dianggap sebagai orang Jawa.

disarikan dari :
artikel ini dibuat di Jakarta Pusat (Tanah Abang) pada tanggal 12 Maret 2014


Bahasa
Bahasa sebagai alat komunikasi yang sangat diperlukan dalam berinteraksi. Dengan adanya bahasa kita dapat memahami apa yang dimaksud dengan orang lain.
Karakteristik bahasa :
1.       Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa dijelaskan. Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.
2.       Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
3.       Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
4.       Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab Saudi.
5.       Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi
C.      Fungsi-Fungsi Bahasa
Konsep bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran. Bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat atau berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit, sebab yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah “who speak what language to whom, when and to what end”. Oleh karena itu fungsi-fungsi bahasa dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topic, kode dan amanat pembicaraan.
1.       Fungsi Personal atau Pribadi
Dilihat dari sudut penutur, bahasa berfungsi personal. Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedang sedih, marah atau gembira.
·         Fungsi Direktif
Dilihat dari sudut pendengar atau lawan bicara, bahasa berfungsi direktif, yaitu mengatuf tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dikehendaki pembicara.
·         Fungsi Fatik
Bila dilihat segi kontak antara penutur dan pendengar, maka bahasa bersifat fatik. Artinya bahasa berfungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakan biasanya sudah berpola tetap, seperti pada waktu pamit, berjumpa atau menanyakan keadaan. Oleh karena itu, ungkapan-ungkapan ini tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Ungkapan-ungkapan fatik ini biasanya juga disertai dengan unsur paralinguistik, seperti senyuman, gelengan kepala, gerak gerik tangan, air muka atau kedipan mata. Ungkapan-ungkapan tersebut jika tidak disertai unsure paralinguistik tidak mempunyai makna.
·         Fungsi Referensial
Dilihat dari topik ujaran bahasa berfungsi referensial, yaitu berfungsi untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada disekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya. Fungsi referensial ini yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu adalah alat untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakan bagaimana si penutur tentang dunia di sekelilingnya.
·         Fungsi Metalingual atau Metalinguistik
Dilihat dari segi kode yang digunakan, bahasa berfungsi metalingual atau metalinguistik. Artinya, bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Biasanya bahasa digunakan untuk membicarakan masalah lain seperti ekonomi, pengetahuan dan lain-lain. Tetapi dalam fungsinya di sini bahasa itu digunakan untuk membicarakan atau menjelaskan bahasa. Hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahasa di mana kaidah-kaidah bahasa dijelaskan dengan bahasa.
·         Fungsi Imajinatif
Jika dilihat dari segi amanat (message) yang disampaikan maka bahasa itu berfungsi imajinatif. Bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan; baik yang sebenarnya maupun yang hanya imajinasi (khayalan) saja. Fungsi imaginasi ini biasanya berupa karya seni (puisi, cerita, dongeng dan sebagainya) yang digunakan untuk kesenangan penutur maupun para pendengarnya

disarikan dari : 
artikel ini dibuat di Jakarta Pusat (Tanah Abang) pada tanggal 12 Maret 2014

semoga artikel ini dapat membantu maupun menambah informasi bagi anda, terima kasih telah membaca :)