Gender
Kata Gender berasal dari bahasa inggris berarti jenis
kelamin. Gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak pada individi sebagai
perbedaan yang tampak dari segi nilai dan tingkah laku. Gender adalah
suatu aturan ataupun norma pada setiap individu yang berhubungan dengan jenis
kelamin dalam suatu system masyarakat. Karena itu gender sering kali di sangkut
pautkan dengan jenis kelamin ataupun sex. Begitu pula pada prilaku dan peranan
mental seseorang.“Gender merujuk pada peranan dan tanggung jawab individu yang
diciptakan dalam keluarga, masyarakat dan budaya” (UNESCO, 2007). Peranan
gender adaah harapan mengenai perilaku yang tepat, dan sikap. Peran gender
jelas dalam pekerjaan dan bagaimana kita bereaksi terhadap orang lain.
·
Konstruksi
Gender Sosial
Peran gender didefinisikan sebagai harapan akan perilaku yang
tepat, sikap, dan kegiatan yang dilakukan oleh pria dan wanita. Banyak sosiologis yang tertarik untuk mempelajari peran gender
yang membawa laki-laki dan wanita mengeluarkan perilaku yang berbeda. Gender tidak hanya mengambil peran dalam hal yang berhubungan
dengan pekerjaan saja, tetapi lebih kepada bagaimana kita dapat berinteraksi
dengan orang lain.
Dalam sebuah penelitian stereotip peran gender, beberapa pelajar
diminta untuk berperilaku sebagaimana yang mereka rasa hal itu melanggar norma
gender. Hasilnya adalah bagi pelajar wanita, norma yang melanggar gendernya
seperti membukakan pintu untuk pria, berbicara dengan pengetahuan luas tentang
otomotif, dan lain-lainnya. Sedangkan bagi pelajar pria, norma yang melanggar
gendernya seperti memakai kuteks, menangis di depan umum, melakukan pedicure,
dan lain-lainnya. Salah satu penyakit atau kelainan yang berhubungan dengan gender
adalah homophobia, yaitu sebuah rasa takut yang timbul akibat prasangka buruk
terhadap homoseksualitas.
·
Peran
Wanita
Hasil uji dari sebuah buku yang terbit dari tahun 1970 sampai 1990
menemukan bahwa wanita cenderung masih berperan kuat dalam peran tradisional,
seperti ibu rumah tangga, nenek, atau sukarelawan. Walaupun para wanita di
zaman sekarang ini sudah berfikiran lebih modern dan luas untuk memiliki karir
dan mencapai penghargaan kuat dari lingkungannya, kesuksesan yang ia raih itu
masih belum sebanding dan sepenting jika identitasnya adalah laki-laki.
·
Gennder dan Stratifikasi Sosial
Macionis (1989:328) mendefenisikan
stratifikasi gender yaitu sebagai ketimpangan dalam pembagian kekayaan,
kekuasaan dan privelese antara laki-laki dan perempuan. Menurut Macionis,
ketimpangan ini dijumpai diberbagai bidang; di dunia kerja, dalam pelaksanaan
pekerjaan rumah tangga, dibidang pendidikan, di dibidang politik, selain itu
perempuan lebih cenderung menjadi korban kekerasan laki-laki dari pada
sebaliknya.Adanya stratifikasi gender (Sunarto, 2000:116) telah mendorong
lahirnya gerakan sosial di kalangan kaum perempuan, yang bertujuan membela dan
memperluas hak-hak kaum perempuan. Gerakan ini dinamakan fenimisme.
FeminismeMenurut Giddens (Sunarto, 2000:116), feminisme telah bermula di Perancis
pada abad ke 18 dan kemudin menyebar ke negara-negara lain dibenua Eropa,
Amerika, Afrika dan Asia. Macionis (1989:336-337) mengatakan bahwa feminisme
merupakansuatu cara pandang baru dan berbeda mengenai diri kita sendiri
danmasyarakat kita. Feminisme merubah pola-pola sosial yang konvensioanl yang
diterima sebagaiman apa adanya oleh masyarakat. Dalam konteks ini, feminisme
merupakan suatu tantangan baru khususnya terhadap nilai-nilai kekuasaan dan
dominasi maskulinisme terhadap masyarakat yang patriarkhi. Oleh karena
perjuangan feminisme bertujuan untuk menyamakan kedudukan sosial laki-laki dan
perempuan, maka feminisme sering dianggap mereintegrasi kemanusiaan. Artinya
kemanusiaan laki-lakidan perempuan adalah sama, dan oleh karena itu sudah seharusnyakesempatan-kesempatan
sosialpun harus sama pada laki-laki dan perempuan.
·
Sosialisasi Gender
Sosialisasi peran gender mulai
dilakukan dikeluarga, kelompok-kelompok sebaya, dilembaga-lembaga pendidikan dan juga media masa. Institusi dan
kelompoks sosial di atas seringkali memberikan peran sosial yang berbeda kepada
laki-laki dan perempuan
·
Perspetif sosiologi terhadap stratifikasi
gender
Perspektif Konflik Randal Collins
(Jeffries, 1980:198) mengatakan bahwa kepemilikan alat produksi memungkinkan
kelas yang satu mengeksploitasi kelas yang lainnya. Pada umumnya kelas yang
berkuasa itu adalah laki-laki. Ini berarti laki-laki mendominasi
wanitaberdasarkan kepemilikan alat-alat produksi. Dalam masyarakat tradisional
di mana pemanfaatan teknologi masih rendah tidak ada pembagian kerja yang
signifikan antara laki-laki dengan wanita, namun tidak demikian halnya menurut
Collins dalam masyarakat.
·
Pelecehan Seksual :
Perilaku
pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidakdiinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara
verbalataupun fisik merujuk pada seks.
Status
Wanita di Seluruh DuniaGambaran tentang status wanita di dunia sekarang ini
adalah adanya perbedaanstatus yang jelas antara pria dan wanita, seperti dalam
pendidikan, lowonganpekerjaan, kesehatan, dan hak asasi manusia. Sampai
sekarang wanita masihdianggap ‘kelas kedua’, direndahkan, dan kurang dihargai.
Contohnya di India,para janda yang
ditinggal suaminya hanya
dianggap sebagai ‘properti’dikeluarganya dan
pada akhirnya menjadi
pelayan yang tidak
dibayar. Ada hubungan antara
kekayaan industri nasional
dengan kemiskinan wanita
dinegara berkembang, perkembangan ekonomi nasional dikontrol dan
dieksploitasioleh negara industri
dan perusahaan multinasional
di negara tersebut.Kebanyakan yang bekerja sebagai
buruh adalah wanita dengan jam kerja yang tinggi tetapi mendapat bayaran yang
murah.Wanita sebagai tenaga kerja di amerika
- Buruh
Banyak dari
wanita, dari yang
belum menikah, sudah
menikah, belummempunyai anak,
dan sudah mempunyai anah bekerja
sebagai buruh.59% dari wanita bekerja di
luar rumah menurut survei
yang dilakukanpada tahun 2004,
dan mayoritasnya bekerja
sebagai buruh. Selainitu,wanita kurang
dihargai di dalam
pekerjaan yang bisa
didefinisikansebagai
‘pekerjaan pria’, dimana
pekerjaan pria tersebut
memiliki gajiyang lebih besar.
-
Kompensasi
Dalam
beberapa pekerjaan, walaupun pekerjaan yang dilakukan oleh priadan wanita itu
sama, tetapi penghasilan yang dihasilkan oleh pria lebihbesar dibanding
yang dihasilkan oleh
wanita. Dan dalam
beberapapekerjaan pula, seperti perawat, guru, dan pustakawan, pria
merasa lebihnyaman dan diuntungkan ketika bekerja di pekerjaan yang didominasi
olehwanita.
-
Konsekuensi Sosial di Pekerja Wanita
Banyak
wanita yang mengalami tantangan dalam masalah pekerjaan dankeluarga. Karena
dengan bekerjanya para wanita dibidang pekerjaan yangseharusnya dikerjakan oleh
pria ini
akan mengancam pekerjaan rumah yaang
seharusnya dikerjakan oleh
wanita, masalah yang
seringdiperbincangkan saat ini adalah jika para wanita mengambil lahan
kerjapria maka pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan oleh wanita
akandikerjakan siapa? perhatian dan
kepedulian terhadap anakpun
jugaterancam.
·
Activity Theory
Teori aktivitas menyarankan orang tua untuk tetap
aktiv dan tetap berinteraksi dengan lingkungan sosial. Seseorang yang berumur
70 tahun mungkin tidak memiliki keinginan & atau kemampuan untuk melakukan
berbagai macam peran sosial seperti layaknya orang berumur 40an, tapi mereka
orang-orang tua tersebut memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dalam lingkungan
sosial. Tetap aktiv menunjukan meningkatkan kesehatan mereka yang lanjut usia.
·
Disengagement
teory
Pada teori ini menjelaskan bahwa semakin
mendekatnya seseorang kepada kematian, peran mereka di lingkungan sosial akan
semakin berkurang. Peran-peran tersebut nantinnya akan di ambil oleh mereka
yang lebih muda
·
Sosialisasi
Sosialisasi
adalah sebuah proses yang berlangsung secara jangka panjang. Kita tak mengalami
suatu hal secara sama terus menerus dalam kehidupan. Cara kita bersikap pun
berubah ubah sejalan dengan bertambahnya usia, jadi “life course” dapat
dikatakan mempengaruhi sikap kita dalam kehidupan.Transitional stage. Dimulai
saat individu memasuki kehidupan dewasa (keluar dari rumah orang tua, mulai
karir, menikah). Lalu second transitional period, the midlife transition,
dimulai ketika menginjak usia 40 (midlife crisis).
·
The sandwich generation.
Orang
dewasa yang mempertemukan dan memenuhi kebutuhan orang tua dan anak-anak
mereka. (3 generasi, = sandwich) Anak-anak : membutuhkan arahanOrang tua :
membutuhkan perhatian karena mungkin ada health or economic problems.Dalam hal
ini perempuan lebih menyediakan “care” dengan porsi sebesar 60%.The last major
transition pada manusia : setelah usia 60 tahun. (diberi health care dll)
sehingga pada tahap transisi ini, terjadi dramatic changes in people’s lives.
·
Adjusting to retirement.
Ada
3 fase :
1.
Pre retirement (periode seseorang mempersiapkan retirement)
2.
The near phase ( when the person estabilishes a specific departure date from
his / her job)
3.
The honeymoon phase periode euphoric, in which the person persues activity yang
mereka tak pernah punya waktu untuk itu sebelumnya.
·
Naturally Occurring Retirement Communities
(NORCs)
Naturally
Occurring Retirement communities (NORCs) adalah sebuah komunitas yang berkembang
secara alami dari waktu ke waktu yang sebagian besar warga usia lanjut /
pensiunan (usia 60 tahun atau lebih). “ NORCs bisa sekecil satu bangunan
apartemen atau sama besar dengan lingkungan di kota besar. “Tahap kekecewaan,
di mana pensiunan merasakan kekecewaana tau bahkan depresi karena mereka
menghadapi kehidupan baru yang mungkin termasuk penyakit atau kemiskinan
-
Fase reorientasi , yang melibatkan pengembangan pandangan yang lebih realistis
alternatif pension.
-
Tahap stabilitas, periode di mana seseorang telah belajar untuk menghadapi
kehidupan setelah pensiun dalam waktu yang wajar dan nyaman.
-
Fase terminasi , yang dimulai ketika orang tak dapat lagi terlibat dalam
kegiatan dasar sehari-hari seperti perawatan diri dan pekerjaan rumah tangga.
·
Usia stratifikasi di Amerika Serikat
Kekayaan
dan pendapatan ada variasi yang signifikan dalam kekayaan dan harta di antara
bangsa orang tua. beberapa individu dan pasangan menemukan diri mereka miskin
sebagian karena pensiun tetap dan melonjaknya biaya perawatan kesehatan. Namun
demikian, sebagai sebuah kelompok, orang tua di negara-negara bersatu adalah
tidak homogen non miskin.
·
Ageism
Phsyician
robert butler menjadi prihatin 30 tahun yang lalu ketika ia mengetahui bahwa
pembangunan perumahan di dekat rumahnya di washington metropolitan, D. C
dilarang orang tua. butler berdasarkan usia seseorang. misalnya, kita dapat
memilih untuk menganggap bahwa seseorang tidak dapat menangani rigorus sebuah
pekerjaan dengan otoritas karena dia adalah "terlalu muda".
ageism sangat sulit untuk tua, karena penerima setidaknya muda prasangka tahu
bahwa dalam waktu mereka akan 'cukup lama "bagi banyak orang,
usia tua melambangkan penyakit.
The
Battle over Abortion from a Globalperspective
·
The issue
Masalah
aborsi semakin banyak diperbincangkan, ketika
proses aborsi di Amerika
serikat
diperbolehkan oleh hukum. Yang dikenal dengan nama Roe v. Wade. Menurut mereka
wanita berhak memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri,
termasuk aborsi.
·
The settings
Dengan
di adakannya keksepakatan tentang aborsi, badan hukum memutuskan agar proses
aborsi sebaiknya diketahu oleh pihak orang tua. Namun, pihak lain tidak
sependapat. Menurutnya, remaja putri yang melakukan aborsi, tidak perlu
membesar-besarkan masalah itu dengan orang tuanya.
Tidak
hanya itu, bahkan para dokterpun mengijinkan pasiennya untuk mengonsumsi pill
untuk aborsi.
·
Sociological insight
Ilmuwan
sosiologi memandang gender dan tingkat sosial sebagai isu aborsi. Menurut
Luker, wanita boleh melakukan aktivitas sosial seperti bekerja di kantor dan
sebagainya. Ia tidak memandang gender spade ebagai pembatas para wanita untuk
berakktivitas diluar rumah.
Berbeda
dengan pandangan masyarakat lain. Mereka menekankan bahwa pria lebih pantas
untuk melakukan aktivitas diluar rumah sedangkan wanita hanya boleh bekerja
dirumah mengurus rumah tangga dan anak-anak.
Tingkat
sosial juga termasuk isu aborsi. Keluarga yang kurang mampu akan sulit untuk
menjalankan proses aborsi, hal itu disebabkan karena kurangnya financial dan
obat-obatan saat melakukan aborsi. Pada tahun 2001 hanya 6% dokter yangrela
melakukan proses aborsi tanpa syarat seperti pembayaran dan lain-lain.
·
Policy initiative
Pada
akhirnya sekitar tahun 1973, hokum memutuskan untuk membatasi proses aborsi dan
menghilangkan program penggunaan bayi sebagai bahan percobaan.
· Sifat-sifat gender
dalam mengasosiasikan
·
Bagi laki-laki :
Laki-laki harus mempunyai sifat yang maskulin, agresif,
berani dan dominan.
·
Bagi prempuan :
Perempuan haruslah mempunyai sifat feminism, lembut, manis,
emosional, dan penerut.
·
·
Peran gender bagi prempuan
Citra diri dapat berkembang pada pria dan wanita, hal itu
yang dapat membedakan peranan wanita dengan peranan laki adalah sebagai berikut
:
1.
Dapat mengidentifikasikan dengan jenis kelamin
yang sama. Hal ini merupakan ingin merasa sama dengan seseorang yang
diidentifikasikan.
2.
Keluarga
3.
Media masa
·
Peranan gender bagi laki-laki :
Anak laki-laki yang berhasil beradaptasi dengan standar
budaya maskulinitas dapat tumbuh menjadi orang ekspresif yang tidak bisa
berbagi perasaan dengan orang lain
Anak laki-laki yang berhasil beradaptasi dengan standar
budaya maskulinitas dapat tumbuh menjadi orang ekspresif yang tidak bisa
berbagi perasaan dengan orang lain.
Perspektif lintas
budaya
·
Stratifikasi gender dalam setiap masyarakat
membutuhkan:
Sosialisasi individu menjadi peran gender tradisional dalam
keluarga.
·
Setiap masyarakat berhak menolak dan menentang
stereotip.
Stratifikasi gender
Diferensiasi jender memberikan kontribusi untuk stabilitas
sosial. Contohnya :
1.
Ekspresif: kepedulian terhadap pemeliharaan
keharmonisan dan urusan emosional internal
Keluarga
2.
Perantaraan: penekanan pada tugas, fokus pada
tujuan yang lebih jauh, dan kepedulian untuk hubungan eksternal antara keluarga
seseorang dan lembaga sosial lainnya
Wanita, mayoritasnya adalah tertindas. Prilaku ini karena
banyaknya lecehan yang dialami wanita dari lingkungan sekitar.
disarikan dari :
Slide
Binusmaya. (2013). Human Diversities 1:
Language, Communication, Culture, and Ethnicity. Jakarta : Bina Nusantara
University
Daftar Pustaka
Schaefer, Richard T (2008). Sociology a Brief Introduction (7th
ed.). Boston: McGraw Hill
https://www.youtube.com/watch?v=hxMsBcTdBQk&feature=youtu.be (short movie buatan kita)
artikel ini dibuat di Jakarata Pusat (Tanah Abang), pada tanggal 12 maret 2014
artikel ini dibuat di Jakarata Pusat (Tanah Abang), pada tanggal 12 maret 2014
Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sanksekerta yaitu buddhayah. Yang
diartikan dengan hal-hal yang bersangkut paut
dengan budi dan akal manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang dari masa ke masa dan dianut oleh manusia zaman sekarang. Menurut Melville
J. Herkovits, budaya adalah sesuatu yang superorganic, karena dapat diwariskan
secara turun temurun. Sedangkan menurut Edward B. Taylor budaya adalah hal
komplek yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum,
adat-istiadat, kemampuan, kebiasaan, atau suatu hal yang dimiliki manusia
sebagaianggota masyarakat.
Berdasarkan wujudnya,
kebudayaan dapat dibagi 2 yaitu kebudayaan abstrak dan kebudayaan konkret.
1. Kebudayaan yang bersifat abstrak ini
letaknya ada didalam piker manusia sehingga
tidak dapat diraba atau difoto. Contohnya : nilai-nilai, norma,
peraturan, dan cita-cita.
2. Kebudayaan konkret, wujudnya berpola dari
tindakan atau perbuatan dan aktivitas manusia dalam masyarakat. Kebudayaan jenis
ini dapat diraba, dilihat, diamati disimpan ataupun difoto. Contohnya :
prilaku, bahasa , dan materi.
Unsur-unsur kebudayaan :
Bronislaw Malinowski menyebutkan
4 unsur kebudayaan, yakni :
1. System norma-norma yang memungkinkan
kerja sama antara anggota masyarakat.
2. Organisasi ekonomi.
3. Alat-alat lembaga atau petugas
pendidikanseperti keluarga
4. Organisasi kekuatan
Clyde kluckhohn menyebutkan 7 unsur kebudayaan, yakni :
1.
Perlengkapan dan peralatan hidup manusia
(pakaian, rumah, alat rumah tangga, sampai ke transportasi)
2.
Mata pencarian hidup dan system-sistem ekonomi
( pertanian, perternakan, system produksi dan system distribusi)
3.
System kemasyarakatan ( hokum, perkawinan dan
politik )
4.
Bahasa (lisan dan tertulis)
5.
Kesenian
6.
Religi
Unsure-unsur ini adalah unsure pokok yang disebut unsure kebudayaan
yanhg universal.
Fungsi kebudayaan
:
Sebagian besar kebutuhan masyarakat dipenuhi oleh kebudayaan yang
bersumber dari masyarakat itu sendiri. Berikut ini adalah fungsi kebudayaan
bagi manusia.
1.
Hasil karya manusia melahirkan teknologi atau
kebudayaan kebendaan. Teknologi memili sedikitnmya dua kegunaan, yakni
melindungi masyarakat dari ancaman lingkungannyadan memberikan kemungkinan
kepada masyarakat untuk memanfaatkan alam.
2.
Karsa masyarakat yang merupakan perwujudan
norma dan nilai-nilai sosial dapat menghasilkan tata tertib dalam pergaulan
kemasyarakatan. Karsa merupakan daya upaya manusia uuntuk melindungi diri
terhadap kekuatan-kekuatan lain.
3.
Sebagai pola prilaku yang merupakan cara
masyarakat untuk bertindak atau berkelakuan yang merupakan cara masyarakat
bertindak yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat.
Karakteristik
kebudayaan :
Secara umum setia kebudayaan memiliki karakteristtik tersendiri. Diantaranya
adalah kebudayaan adalah milik bersama, merupakan hasil belajar, didasarkan
pada lambing, dan terintegrasi.
Sifat kebudayaan
:
1.
Akulturasi : berpadunya 2 unsur kebudayaan
atau lebih membentuk kebudayaan baru dengan menghilangkan cirri kepribadian
masing-masing.
2.
Asimilasi : pembaharuana 2 unsur kebudayaan
berbeda yang menghasilkan suatu unsure yang baru.
disarikan dari :
http://www.lintasberita.web.id/pengertian-budaya-menurut-para-ahli/
kun maryati, juju suryawati. (2006). sosiologi untuk SMA/MA kelas 2. esis.
artikel ini ditulis di Jakarta Pusat (Tanah Abang), pada tanggal 12 maret 2014
kun maryati, juju suryawati. (2006). sosiologi untuk SMA/MA kelas 2. esis.
artikel ini ditulis di Jakarta Pusat (Tanah Abang), pada tanggal 12 maret 2014
Etnik
Definisi etnik diatas menjelaskan pembatasan-pembatasan kelompok
etnik yang didasarkan pada populasi tersendiri, terpisah dari kelompok lain,
dan menempati lingkungan geografis tersendiri yang berbeda dengan kelompok
lain. Seperti misalnya, etnik Minang menempati wilayah geografis pulau Sumatera
bagian barat yang menjadi wilayah provinsi Sumatera Barat saat ini dan beberapa
daerah pengaruh di provinsi sekitar. Lalu etnik Sunda menempati wilayah pulau
jawa bagian barat. Dan etnik Madura menempati pulau madura sebagai wilayah
geografis asal.
Sebuah kelompok etnik pertama kali diidentifikasi melalui hubungan
darah. Apakah seseorang tergabung dalam suatu kelompok etnik tertentu ataukah
tidak tergantung apakah orang itu memiliki hubungan darah dengan kelompok etnik
itu atau tidak. Meskipun seseorang mengadopsi semua nilai-nilai dan tradisi
suatu etnik tertentu tetapi jika ia tidak memiliki hubungan darah dengan
anggota kelompok etnik itu, maka ia tidak bisa digolongkan anggota kelompok
etnik tersebut. Seorang batak akan tetap menjadi anggota etnik batak meskipun
dalam kesehariannya sangat ‘jawa’. Orang Jawa memiliki perbendaharaan kata
untuk hal ini, yakni ‘durung jawa’ (belum menjadi orang jawa yang semestinya)
untuk orang-orang yang tidak menerapkan nilai-nilai jawa dalam keseharian
mereka. Dan menganggap orang dari etnik lain yang menerapkan nilai-nilai jawa
sebagai ‘njawani’ (berlaku seperti orang jawa) (Suseno, 2001). Meskipun
demikian orang itu tetap tidak dianggap sebagai orang Jawa.
disarikan dari :
artikel ini dibuat di Jakarta Pusat (Tanah Abang) pada tanggal 12 Maret 2014
Bahasa
Bahasa sebagai alat komunikasi yang sangat diperlukan dalam
berinteraksi. Dengan adanya bahasa kita dapat memahami apa yang dimaksud dengan
orang lain.
Karakteristik
bahasa :
1.
Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan
yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan
mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan
“kuda” melambangkan ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’
adalah tidak bisa dijelaskan. Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga
konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara
lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang
‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak yang
dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika
dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.
2.
Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur
yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak
terbatas. Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS.
Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata,
tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak
terbatas.
3.
Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari
berbagai kemungkinan perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat
terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan
leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul,
tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
4.
Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama,
namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai
latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam,
baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran
leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan
di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan
yang digunakan di Arab Saudi.
5.
Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia.
Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang
berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia
dalam menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan
cara belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena
itu dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi
C. Fungsi-Fungsi Bahasa
Konsep bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran. Bahasa
adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat
untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Bagi sosiolinguistik
konsep bahwa bahasa adalah alat atau berfungsi untuk menyampaikan pikiran
dianggap terlalu sempit, sebab yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah
“who speak what language to whom, when and to what end”. Oleh karena itu
fungsi-fungsi bahasa dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topic, kode
dan amanat pembicaraan.
1.
Fungsi Personal atau Pribadi
Dilihat dari sudut penutur, bahasa berfungsi personal. Maksudnya,
si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan
hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu
sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak pendengar juga dapat
menduga apakah si penutur sedang sedih, marah atau gembira.
·
Fungsi Direktif
Dilihat dari sudut pendengar atau lawan bicara, bahasa berfungsi
direktif, yaitu mengatuf tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak hanya
membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai
dengan yang dikehendaki pembicara.
·
Fungsi Fatik
Bila dilihat segi kontak antara penutur dan pendengar, maka bahasa
bersifat fatik. Artinya bahasa berfungsi menjalin hubungan, memelihara,
memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan
yang digunakan biasanya sudah berpola tetap, seperti pada waktu pamit, berjumpa
atau menanyakan keadaan. Oleh karena itu, ungkapan-ungkapan ini tidak dapat
diterjemahkan secara harfiah. Ungkapan-ungkapan fatik ini biasanya juga
disertai dengan unsur paralinguistik, seperti senyuman, gelengan kepala, gerak
gerik tangan, air muka atau kedipan mata. Ungkapan-ungkapan tersebut jika tidak
disertai unsure paralinguistik tidak mempunyai makna.
·
Fungsi Referensial
Dilihat dari topik ujaran bahasa berfungsi referensial, yaitu
berfungsi untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada disekeliling penutur
atau yang ada dalam budaya pada umumnya. Fungsi referensial ini yang melahirkan
paham tradisional bahwa bahasa itu adalah alat untuk menyatakan pikiran, untuk
menyatakan bagaimana si penutur tentang dunia di sekelilingnya.
·
Fungsi Metalingual atau Metalinguistik
Dilihat dari segi kode yang digunakan, bahasa berfungsi
metalingual atau metalinguistik. Artinya, bahasa itu digunakan untuk
membicarakan bahasa itu sendiri. Biasanya bahasa digunakan untuk membicarakan
masalah lain seperti ekonomi, pengetahuan dan lain-lain. Tetapi dalam fungsinya
di sini bahasa itu digunakan untuk membicarakan atau menjelaskan bahasa. Hal
ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahasa di mana kaidah-kaidah bahasa
dijelaskan dengan bahasa.
·
Fungsi Imajinatif
Jika dilihat dari segi amanat (message) yang disampaikan maka
bahasa itu berfungsi imajinatif. Bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan
pikiran, gagasan dan perasaan; baik yang sebenarnya maupun yang hanya imajinasi
(khayalan) saja. Fungsi imaginasi ini biasanya berupa karya seni (puisi,
cerita, dongeng dan sebagainya) yang digunakan untuk kesenangan penutur maupun
para pendengarnya
disarikan dari :
artikel ini dibuat di Jakarta Pusat (Tanah Abang) pada tanggal 12 Maret 2014
semoga artikel ini dapat membantu maupun menambah informasi bagi anda, terima kasih telah membaca :)
semoga artikel ini dapat membantu maupun menambah informasi bagi anda, terima kasih telah membaca :)
hi vii artikelnya menarik, lengkap tetapi kalau ada gambar lebih baik lagi, aku kasih 86 yaaa
BalasHapussecara keseluruhan isinya bagus dan lengkap tetapi lebih baik lagi jika di ringkas. Nilai 89 yaa
BalasHapus