Kamis, 19 Juni 2014

kelas terakhir fil-sos


Kelas terakhir

Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir kami dalam pelajaran filsafat sosial ini, dihari ini kami berkumpul dan bersenang bersama. Di hari terakhir ini saya berserta teman-teman satu kelas mengadakan pesta kecil-kecilan. Dimana dipesta tersebut kami makan-makan dan berfoto bersama.
nah ini ya lampirkan beberapa foto di hari terakhir kita di kelas filsafat sosial :)


















foto bersama kelompok :)



social movement


Sosial movement ..

Pengertian dan Konsep Gerakan Sosial

Pada tahun 1966 para mahasiswa anggota KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang berusaha mengagalkan upacara pelantikan anggota kabinet baru dengan jalan memblokade jalan-jalan yang menuju istana-istana merdeka dengan kendaraan-kendaraan bermotor yang bannya dikempesin. Dua puluh tahun kemudian penduduk wilayah palestina yang diduduki Israel melancarkan gerakan yang dikenal dengan nama intifadah-demontrasi, pemogokan serta konfrontasi dengan pasukan Israel dengan menggunakan batu dan bom api.
 Gerakan sosial adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbetuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.

Sejumlah ahli sosiologi menekankan pada segi kolektif dan gerakan sosial ini, sedangkan diantara mereka ada pula yang menambahkan segi kesengajaan, organisasi dan kesinambungan.

Definisikan gerakan sosial sebagai: “any board social alliance of people who are associated in seeking to effect or to block an aspect of social change within a society” artinya, Suatu aliansi sosial sejumlah besar orang yang berserikat untuk mendorong ataupun menghambat suatu segi perubahan sosial dalam suatu masyarakat.

Organisasi yang dinamis adalah organisasi yang mampu berkolaborasi dengan sekitarnya. Ketika sumber daya yang ada dapat berkolaborasi dan berbaur dengan sekitar maka akan tercipta sebuah gerakan yang besar dan terarah. Jika subjek-subjek yang berada didalam sebuah wadah organisasi mampu meningkatkan kualitas diri dan mampu meningkatkan jejaring komunikasi dan kerjasama. Tentunya konsep TriNetwork ini akan menjadi sebuah konsep yang mampu memberikan arah perubahan yang cukup bagi kemajuan organisasi.
Konsep TriNetwork ini adalah sebuah ilmu yang memposisikan diri organisasi dari 3 (Tiga) aspek penting dalam dunia kemasyarakatan. Aspek tersebut adalah:
Ø  Masyarakat
Sebuah Organisasi yang mandiri harusnya memiliki sebuah tujuan agar dapat melakukan perubahan dan tentunya harus berorientasi terhadap masyarakat. Perjuangan yang tak berorientasi tujuan maka akan sia-sia karena tidak ada yang akan merasakan hasil dan yang mampu memberikan sebuah respons terhadap kinerja organisasi
Ø  Pemerintah
Sebagai penguasa dinegara adalah pemerintah, karena itu wajib hukumnya kita berkolaborasi dengan penguasa agar kita dapat memberikan fungsi Sosial Control kita agar Policy yang ditetapkan dapat bersinergi dengan tujuan kita. Tak lepas dari itu kita juga memiliki peran yang sentral dalam upaya pemberdayaan masyarakat yang tentunya merupakan prioritas dari pemerintahan untuk mensejahterakan rakyat dan tentunya bersinergi dengan aspek yang pertama yaitu tujuan (masyarakat)
Ø  Instansi Swasta
Instansi swasta merupakan aspek yang ketiga karena perkembangan dunia Ekonomi tak akan lepas dari peran instansi swasta. Aspek yang menjadi sentral dan tentunya berakibat yang sangat fatal jika ekonomi mengalami kolaps dan mengakibatkan masyarakat menderita.
Ketiga aspek tersebut harusnya menjadi sebuah sinergi dalam satu arah gerak dalam membuat kebijakan organisasi yang berorientasi tujuan dan jejaring.[5]
Konsep Dalam Marxisme tradisional perjuangan kelas ditempatkan pada titik sentral dan faktor esensial dalam menentukan suatu perubahan sosial. Masyarakat kapitalis dibagi menjadi dua kelas utama, yaitu kelas proletar (kelas yang dieksploitasi) dan kelas kapitalis (kelas yang mengeksploitasi). Oleh karena itu, dalam perspektif ini, masyarakat terdiri dari dua unsur esensial, yaitu dasar dan superstruktur.
Unsur dasar adalah faktor ekonomi, dianggap sebagai landasan yang secara esensial menentukan dalam perubahan sosial. Sedangkan superstruktur, adalah faktor pendidikan, budaya, dan ideologi yang berada di tempat kedua, karena faktor tersebut ditentukan oleh kondisi perekonomian. Dengan demikian, menurut pendekatan ini, perubahan sosial terkaji dikarenakan adanya perjuangan kelas, yaitu kelas yang dieksploitasi (buruh) berjuang melawan kelas yang mengeksploitasi (kelas kapitalis).
Dengan kata lain, aspek esensial perubahan sosial adalah revolusi kelas buruh, dengan determinisme ekonomi sebagai landasan gerakan sosial.
Pendekatan yang digunakan dalam Marxisme tradisional tersebut di atas mendapatkan kritikan dari beberapa tokoh antiesensialisme dan nonreduksionis, termasuk Antonio Gramsci. Mereka menolak pendekatan bahwa kompleksitas yang terjadi di masyarakat hanya direduksi secara sederhana dengan hubungan sebab dan akibat. Setiap sebab itu sendiri merupakan sebuah akibat dan demikian pula sebaliknya. Inti pemikiran Antonio Gramsci adalah konsep hegemoni, yang kaitan dengan studi tentang gerakan sosial dan perubahan sosial.

Pendidikan, budaya dan kesadaran merupakan sesuatu permasalahan yang sangat penting dan perlu diperjuangkan dalam perubahan sosial. Hegemoni merupakan bentuk kekuasaan kelompok dominan yang digunakan untuk membentuk kesadaran subordinat. Dalam perspektif Gramscian, konsep organisasi gerakan sosial dikategorikan sebagai masyarakat sipil terorganisir. Konsep tersebut didasarkan pada analisis tentang kepentingan konfliktual dan dealektika atau kesatuan dalam keberbedaan antara Negara (State) dengan Masyarakat Sipil (Civil Socoety).

Masyarakat sipil terdiri dari berbagai bentuk masyarakat voluntir dan merupakan dunia politik utama, dimana semuanya berada dalam aktivitas ideology dan intektual yang dinamis maupun konstruksi hegemoni. Masyarakat sipil merupakan konteks dimana seseorang menjadi sadar dan seseorang pertama kali ikut serta dalam aksi politik. Dengan demikian, masyarakat sipil adalah suatu agregasi atau percampuran kepentingan, dimana kepentingan sempit ditransformasikan menjadi pandangan yang lebih universal sebagai ideologi dan dipakai atau diubah. Dalam konteks ini, bagi Gramsci masyarakat sipil adalah dunia dimana rakyat membuat perubahan dan menciptakan sejarah.

Gerakan sosial berbeda dengan perilaku kolektif yang telah dibahas terdahulu, maka gerakan sosial ditandai dengan adanya tujuan atau kepentingan yang bersama. Setelah melakukan perusakan terhadap stadion, stasiun kereta api, kendaraan atau sarana umum lainnya. Para suporter yang terlibat dalam perilaku kolektif biasanya tidak mempunyai tujuan atau kepentingan bersama lagi dan perilaku kolektif akan berhenti sendirinya. Hal sama berlaku pula bagi orang yang bersama-sama melakukan pemukulan bahkan pembunuhan terhadap tersangka pelaku kejahatan. Para remaja penggemar aktor atau seniman tertentu yang telah berdesak-desakan dalam kerumpunan akhirnya berhasil memperoleh tanda tangan idola mereka.

Gerakan sosial, dipihak lain, ditandai dengan adanya tujuan jangka panjang, yaitu untuk menghubah ataupun mempertahankan masyarakat atau institusi yang ada didalamnya. Contoh, gerakan mahasiswa di beberapa kota di Indonesia pada tahun 1965-1966 yang dilancarkan hampir tiap hari bertujuan perimbangan politik dan kebijakan ekonomi pemerintah (pembubaran PKI, penurunan harga, perubahan kabinet). Giddens (1989) dan Light, Keller dan Calhoun (1989) menyebutkan ciri lain gerakan sosial, yaitu penggunaan cara yang berada diluar institusi yang ada. Berbagai gerakan sosial memang memenuhi kriteria ini. gerakan mahasiswa Indonesia pada tahun 1966 dan 1998, gerakan mahasiswa Amerika Serikat menentang perang Vietnam, memang sering berada diluar institusi yang ada. Sebagaimana dapat dilihat kasus di atas, cara yang digunakan memang berada diluar Institusi, misalnya, pemogokan, pawai, unjuk rasa atau demonstrasi tanpa izin, mogok makan, intimidasi, konfrontasi dengan aparat keamanan.

1.    Macam-Macam dan Tipe Gerakan Sosial
Disekitar kita banyak terdapat macam-macam gerakan sosial. Seperti halnya gerakan buruh, gerakan petani, gerakan mahasiswa, gerakan religius, gerakan sosial, gerakan radikal, gerakan ideologi, dan kalau kita menganalisis secara terperinci maka sangat banyak macam-macam gerakan sosial yang tumbuh di dalam tataran masyarakat.
Karena keragaman gerakan sosial sangat besar, maka berbagai ahli sosiologi mencoba menklarifikasikan dengan menggunakan kriteria tertentu. David Aberle, misalnya, dengan menggunakan kriteria tipe perubahan yang dikehendaki (perubahan perorangan dan perubahan sosial) dan besar pengaruhnya yang diingginkan ( perubahan untuk sebagain dan perubahan menyeluruh). Membedakan empat tipe gerakan sosial, tipologi Aberle adalah sebagai berikut:
a. Alterative Movement
Ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk merubah sebagian perilaku perorangan. Dalam kategori ini dapat kita masukan berbagai kampanye untuk merubah perilaku tertentu, seperti misalnya kampanye agar orang tidak minum-minuman keras. Dengan semakin menyebarnya penyakit AIDS kini pun banyak dilancarkan kampanye agar dalam melakukan perbuatan sek dengan bertanggung jawab.
b. Rodemptive Movement
Gerakan ini lebih luas dibandingkan dengan alterative movement, karena yang hendak dicapai ialah perubahan menyeluruh pada perilaku perorangan. Gerakan ini kebanyakan terdapat di bidang agama. Melalui gerakan ini , misalnya, perorangan diharap untuk bertobat dan mengubah cara hidupnya sesuai dengan ajaran agama.
c. Reformative Movement
Gerakan ini yang hendak diubah bukan perorangan melainkan masyarakat namun lingkup yang hendak diubah hanya segi-segi tertentu masyarakat, misalnya gerakan kaum homoseks untuk memperoleh perlakuan terhadap gaya hidup mereka atau gerakan kaum perempuan yang memperjuangkan persamaan hak dengan laki-laki. Gerakan people power di Filipina atau gerakan menentang pedana mentri Suchinda di Thailand pun dapat dikategorikan dalam tipe ini karena tujuannya terbatas, yaitu pergantian pemerintah.
d. Transformative Movement
Gerakan ini merupakan gerakan untuk mengubah masyarakat secara menyeluruh. Gerakan kaum Khamer Merah untuk menciptakan masyarakat komunis di Cambidia. Suatu proses dalam mana seluruh penduduk kota dipindahkan ke desa dan lebih dari satu juta orang Cambodia kehilangan nyawa mereka karena di bunuh kaum Khamer Merah, menderita kelaparan atau sakit merupakan contoh ekstrim gerakan sosial semacam ini. Gerakan transformasi yang dilancarkan oleh rezim komunis di Uni Soviet pada tahun 30-an serta di Tiongkok sejak akhir 40-an untuk mengubah masyarakat mereka menjadi masyarakat komunis pun mengakaibatkan menentang diskriminasi oleh orang kasta-kasta bawah, menengah dan atasmu mendapat di kategotikan dalam ini karena keberhasilan gerakan mereka akan berarti pula perombakan mendasar  pada masyarakat India.

Kornblum pun membuat klarifikasi tentang gerakan sosial, tetapi berbeda dengan Aberle, maka yang dijadikan kriteria klarifikasi adalah tujuan yang hendak di capai.[9] Atas dasar kriteria ini kornblum membedakan antara revolutionary movenment, reformist movement, convervative movement, danreactionary movement. Apabila gerakan sosial nbertujuan mengubah institusi dan strafikasi masyarakat, maka gerakan tersebut merupakan gerakan revolusioner (revolutionary movenment).


1.    Fungsi Gerakan Sosial
Perubahan-perubahan besar dalam tatanan sosial di dunia yang muncul dalam dua abad terakhir sebagian besar secara langsung atau tak langsung hasil dari gerakan-gerakan sosial. Meskipun misalnya gerakan sosial itu tidak mencapai tujuannya, sebagian dari programnya diterima dan digabungkan kedalam tatanan sosial yang sudah berubah. Inilah fungsi utama atau yang manifest dari gerakan-gerakan sosial. Saat gerakan sosial tumbuh, fungsi-fungsi sekunder atau “laten” dapat dilihat sebagai berikut:
1. Gerakan Sosial memberikan sumbangsih kedalam pembentukan opini publik dengan memberikan diskusi-diskusi masalah sosial dan politik dan melalui penggabungan sejumlah gagasan-gagasan gerakan kedalam opini publik yang dominan.
2. Gerakan Sosial memberikan pelatihan para pemimpin yang aka menjadi bagian dari elit politik dan mungkin meningkatkan posisinya menjadi negarawan penting. Gerakan-gerakan buruh sosialis dan kemerdekaan nasional menghasilkan banyak pemimpin yang sekarang memimpin negaranya.
Para pemimpin buruh dan gerakan lainnya bahkan sekalipun mereka tidak memegang jabatan pemerintah juga menjadi elit politik di banyak negara. Kenyataan ini banyak diakui oleh sejumlah kepala pemerintahan yang memberikan penghargaan kepada para pemimpin gerakan sosial dan berkonsultasi dengan mereka dalam isu-isu politik. Saat dua fungsi ini mencapai titik dimana gerakan sesudah mengubah atau memodifikasi tatanan sosial, menjadi bagian dari tatanan itu maka siklus hidup gerakan sosial akan berakhir karena melembaga.

 Faktor Penyebab Gerakan Sosial
Menurut penjelasan ini orang melibatkan diri dalam gerakan sosial karena menderita deprivasi (kehilangan, kekurangan, penderitaan), misalnya di bidang ekonomi (seperti hilangnya peluang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya: pangan, sandang, papan). Para penganut penjelasan ini menunjuk pada fakta bahwa gerakan sosial dalam sejarah didahului deprivasi yang disebabkan oleh sosial seperti kenaikan harga-harga bahan kebutuhan pokok.
Beberapa ahli sosiologi, misalnya James Davies, kurang sependapat dengan penjelasan deprivasi semata-mata. Mereka menunjuk pada fakta bahwa gerakan sosial sering muncul justru pada saat masyarakat menikmati kemajuan dibidang ekonomi. Oleh sebab itu dirumuskanlah penjelasan yang memakai konsep deprivasi sosial relative.

 James Davies mengemukakan bahwa meskipun tingkat kepuasan masyarakat meningkat terus, namun mungkn saja terjadi kesenjangan antara harapan masyarakat dengan keadaan nyata yang dihadapi kesenjangan antara pemenuhan kebutuhan yuang diinginkan masyarakat dengan apa yang diperoleh secara nyata.

Kesenjangan ini dinamakan deprivasi sosial relatif. Apabila kesenjangan sosial relatif ini semakin melebar sehingga melewati batas toleransi masyarakat, misalnya karena pertumbuhan ekonomi dan sosial diikuti dengan kemacetan bahkan kemunduran mendadak maka, menurut teori Davies revolusi akan tercetus. Sejumlah ahli sosiologi lain berpendapat bahwa deprivasi tidak dengan sendirinya akan mengakibatkan terjadinya gerakan sosial. Menurut mereka perubahan sosial memerlukan pengerahan sumber daya manusia maupun alam (resource mobilization). Tanpa adanya pergerakan sumber daya suatu gerakan sosial tidak akan terjadi, meskipun tingkat deprivasi tinggi. Keberhasilan suatu gerakansosial bergantung, menurut pandangan ini, padasosial manusia seperti kepemimpinan, organisasi dan keterlibatan, serta sosial sumber daya lain seperti dana dan sarana. Deprivasi yang dialami oleh masyarakat kita pada tahun 1966 tingkat inflasi tinggi yang dampaknya terasa pada harga kebutuhan pokok, ketidakmampuan terhadap klebijaksanaan politik dalam negeri kepemimpinan nasional setelah peristiwa percobaaqn kudeta  “Gerakan 30 September”.

Menurut teori ini tidak akan menghasilkan gerakansosial berupa kebangkitan “Angkatan 1966” apabiula ditunjang dengan pengerahan sumber daya kepemimpinan, organisasi dab keterlibatan mahasiswa dan pelajar, dukungan moral dan materiel kekuatan dalam TNI, dukungan berbagai kalangan masyarakat, dan peliputan oleh media massa dalam negeri dan luar negeri.

Artikel ini dibuat pada tanggal 19 juni 2014, disarikan dari :

colonialisme. development, culture exchange, dan survival


Kolonialisme

Kolonialisme  berasal dari bahasa latin yaitu kata “koloni” yang berarti “tanah, tanah pemukiman, atau penjajahan. Secara umum pengettian kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan. System kolonialisme sudah muncul pada zaman yunani kuno. Yang mana disaat itu para petani yunani berpindah dari negerinya yang tandus ke wilayah lain yang lebih subur. Tujuan mereka adalah mengolah tanah di daerah tandus agar dapat meningkatkan taraf hidupnya menjadi menjadi lebih layak.
Pendukung dari kolonialisme berpendapat bahwa hukum kolonial menguntungkan negara yang dikolonikan dengan mengembangkan infrastruktur ekonomi dan politik yang dibutuhkan untuk pemodernisasian dan demokrasi.
Andre Gunder Frank, berpendapat bahwa kolonialisme sebenarnya menuju ke pemindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke daerah pengkolonisasi, dan menghambat kesuksesan pengembangan ekonomi.
 Arundhati Roy berkata bahwa perdebatan antara pro dan kontra dari kolonialisme/ imperialisme adalah seperti "mendebatkan pro dan kontra pemerkosaan".

Dalam sejarah perkembangan kolonialisme, politik colonial modern mulai tumbuh semenjak abad ke-16. Awalmula politik kolonialisme modern adalah adanya penemuan besar yang dilakukan oleh parapedagang bangsa barat (eropa). Mereka haus akan nama besar, kejayaan dan kekayaan. Bangsa yang dapat disebut sebagai koloniasator pertama adalah bangsa Inggris, Prancis, Belanda, yang mengusai sebagian Amereka Utara, Hindian Barat, Hindia muka, dan Hindia Timur. Tujuan kolonialisnme ini untuk menguras sumber-sumber kekayaan daerah colonial demi perkembangan industry dan memenuhi kejayaan dari negera-negara yang melaksanakan politik colonial tersebut. Maka tidak pernah memperhatikan kesejahteraan dan pendidikan rakyat di daearah kolonialnya. Sehingga kehidupan rakyat di daerah-daerah colonial tetap dan penuh penderitaan.

Perkembangan

Perkembangan merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi ( Santrok Yussen. 1992). Dengan demikian perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai ahir hayat yang bersifaf timbulnya adanya perubahan dalam diri individu.
Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif ( E.B. Harlock ). Dimaksudkan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan individu yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang sesuai usia normal) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif ( dapat diukur) yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
Perkembangan mengandung makna adanya pemunculan sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya ( Kasiram, 1983 : 23), menandung arti bahwa perkembangan merupakan peubahan sifat indiviu menuju kesempurnaan yang merupakan penyempurnaan dari sifat-sifat sebelumnya.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian perkembangan yaitu merupakan perubahan individu kearah yang lebih sempurna yang terjadi dari proses terbentuknya individu sampai ahir hayat dan berlangsung secara terus menerus. Sebagai contoh anak yang baru berusia 5 bulan hanya dapat tengkurab kemudian setelah kira-kira 7 bulan sudah bisa berdiri tapi dengan bantuan orang lain, kemudian pada umur 9 bulan baru dapat berdiri sendiri dan mulai berjalan sedikit demi sedikit. Setelah berumur 10 bulan baru dapat berjalan dengan lancar, setelah itu dia dapat berlari-lari.Mka proses perubahan tarsebut dinamakan dengan perkembangan.
Lalu kita bandingkan dengan pengertiaan dari pertumbuhan. Berikut ini pengertian pertumbuhan menurut para ahli sebagai berikut :
Pertumbuhan merupakan perubahan secara fiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik, yang berlangsung secara normal pada diri anak yang sehat, peredaran waktu tertentu ( kartono ). Pertumbuhan dinyatakan dalam perubahan-perubahan yag terjadi pada bagian, tetapi pertumbuhan itu sendiri adalah suatu sifat umum dari suatu organisme (Whitherington, 1991 : 156). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pertiumbuhan merupakan perubahan individu berupa fisik, cognitf, dan sosioemosional. Dapat dicontohkan misalnya pertumbuhan berat badan, bertambahnya tinggi, dan bertambahnya panjang pada rambut.
Ternyata perkembangan dan pertumbuhan sangatlah berbeda bahwa perkembangan itu sendiri merupakan peribahan individu yang bersifat kualitatif ( tidak dapat diukur) dan berkembang sepanjang hayat sedangkan pertumbuhan merupakan perubahan yang bersifat kuantitatif ( dapat diukur ) sampai saat normal tertentu.
Dari porses perkembangan dapat dikelompokan menjadi 3 aspek yaitu yang pertama aspek bilogis .Aspek biologis tersebut merupakan perkembangan pada fisik individu, contohnya : bertambahnya berat badan dan tinggi badan yantg tentunya dapat kita ukur. Yang kedua ialah aspek kognitif meliputi perubahan kemampuan dan cara berfikir. Aspek ini merupakan perubahan dalam proses pemikiran yang merupakan hasil dari lingkungan sekitar. salah satunya yaitu anak mampu menyelesaikan soal matematika. Dan yang ketiga yaitu aspek psikososial dapat diartikan bahwa aspek ini merupakan perubahan aspek perasaan, emosi, dan hubungannya dengan orang lain. Dengan demikian aspek psikososial merupakan aspaek perkembangan individu dengan lingkungan sekitar atau masyarakat. Dari semua aspek tersebut yaitu aspek biologis ( fisik ), aspek kognitif ( pemikiran ), dan aspek psikososial ( hubungan dengan masyarakat ) semuanya saling mempengaruhi sehingga apabila pada suatu aspek mengalami hambatan maka akan mempengaruhi perkembangan aspek yang lainnya.
Setiap individu ada salah satu faktor yang paling dominan yang mempengaruhi perkembangan . Yaitu antara faktor kematangan dan faktor pengalaman . Ada yang lebih dominan pada pematangan dan ada juga yang lebih condong pada pengalaman tergantung pada masing-masing individu. Pada individu yang condong pada pematangan maka perkembangan tersebut berifat diskontinuitas ( serangkaian tahap yang berbeda ), sedangan pada individu yang condong kepada faktor pengalaman maka sifat perkembangannya bersifat kontinuitas ( serangkaian tahap yang bersinambung atau terus menerus ).
Pengertian perkembangan manusia sebagai berikut :
1.    The progressive and continuous change in the organism from to death, perkembangan itu merupakan perubahan yang progresif dan terus menerus dalam diri organism sejak lahir hingga mati.
2.    Growth, perkembang itu berarti pertumbuhan.
3.    Change in the shape and integration of bodily parts into functional parts, perkambangan berarti perubahan dalamm bentuk dan penyatuan bagian-bagian yang bersifat jasmaniah ke dalam bagian-bagian yang fungsional.
4.    Perkembangan itu adalah kemetangan atau kemunculan pola-pola dasar tingkah laku yang bukan hasil belajar.

culture exchange

pertukaran sosial budaya sebagai indicator saling ketergantungan kehidupan masyarakat sebagai system sosial budaya selalu diwarnai oleh adnya hubungan pertukaran yang menandai bahwa inteaksi antara individu masing-masing terikat dalam suatu ketergantungan dalam hubungan pertukaran mengandung prinsip-prinsip “du ut des”, bahwa saya member agar engkau membalasnya.
Pertukaran budaya terbagi menjadi 2 :
Assimilasi dan akulturasi.

Survival

Kemampuan untuk bernavigasi tanpa peta atau  kompas pun mutlak di perlukan. Selain iti juga mengenai kemampuan untuk dapat bertahan hidup dan mengusai kondisi kesehatan fisik.

Anda juga dituntut bisa memelihara keseimbangan moral karena anda tidak sendiri menghadapi situasi survival, melainkan bersama teman lainnya. Dalam situasi survival, setiap peralatan yang dipunyai tidak ubahnya bagaikan sebuah bonus. Kurangnya peralatan tidak juga berarti tidak punya peralatan, tetapi kemampuan dan pengalaman akan tenik survival bisa mengatasi hal tersebut. Namun, segala kemampuan dan pengalaman itu jangan dibiarkan berkarat. Latihan berkala mutlak dibutuhkan. Pentingnya pengetahuan tentang bertahan hidup (survival) berkaitan dengan munculnya kondisi kritis. Namun dilain pihak, dapat ditemukan adanya kesamaan tertentu pada aspek yang akan muncul dalam setiap kondisi survival. Secara umum aspek-aspek dapat dipisahkan ke dalam tiga golongan, yaitu :

  • Psikologi : panic, takut, cemas, kesepian/sendiri, bingung, tertekan, bosan, dan lain-lain.
  • Fisiologis : sakit, lapar, haus, dan lain-lain.
  • Lingkungan : panas, dingin, kering, hujan, angin, vegettasi, fauna dan lainnya.

Tindakan-tindakan dasar yang perlu dilakukan agar bisa keluar dari kondisi survival bisa dikembangkan dengan mempergunakan kata “SURVIVAL” sebagai kata kunci, yaitu:


S : Size up the situation
Sadarilah kondisi survival ini. Bagaimana kondisi kesehatan tubuh dan jika bersama teman-teman ketahuilah juga kondisi kesehatan tubuh mereka.

U : Undue Haste Makes Waste
Berpikir dan bertindak dengan bijaksana. Setiap langkah harus dipikirkan mendalam.

R : Remember Where You Are
Pengenalan akan lingkungan/daerah sekitar akan memberikan rasa kenal yang berpengaruh terhadap rasa aman.

V : Vasquish Fear and Panic
Kuasai rasa takut dan panik.

I : Improvice
Menerima kondisi yang ada dan berdasarkan hal itu, rencanakan, usahakan kebutuhan - kebutuhan dasar dengan improvisasi.

V : Value Living
Dalam survival, sikap menghargai hidup akan mempengaruhi kemampuan untuk dapat bertahan.

A : Act Like The Natives
Belajarlah dari penduduk setempat. Mereka lebih mengetahui dan menguasai medan tempat kita melakukan kegiatan.

L : Leam Basic Skill
Belajar dan berlatih teknik - teknik dasar dan tambahkan/tingkatkan pengetahuan tentang survival.


artikel ini disarikan dari : 





Selasa, 17 Juni 2014

sosialisasi, interaksi sosial, dan mobilitas sosial

Sosialisasi

Sosialisasi adalah semua proses yang dilalui oleh individu dalam belajar keseluruhan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia dalam bidang keluargaan, pendidikan, agama, dan lain-lain.
Fungsi sosialisasi :
a)   Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada individu.
b)   Menambah kemampuan berkomunikasi, mengembangkan kemampuan menulis, membaca, dan bercerita.
c)   Membantu pengendalian fungsi-fungsi organic melalui latihan-latihan mengawas diri.
d)   Membiasakan individu dengan nilai-nilai dan norma yang ada dalam masyarakat.

Bentuk sosialisasi :
Menurut Peter L.Berger dan Luckmann
Dia membagi bentuk dosialisasi menjadi 2yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder.
Sosialisasi primer : sosialisasi awal atau pertama yang dialami oleh individu sewaktu masih kecil dalam lingkungan keluarga. Yaitu orang tua.
Sosialisasi sekunder : tahap lanjutan setelah sosialisasi primer. Dalam tahap ini seseorang dapat mengalami desosialisasi yaitu proses pemcabutan identitas diri yang lama atau proses resosilisasi  yaitu pemberian identitas baru yang didapat dari suatu institusi sosial.
Menurut Jeager
Sosialisasi represi : sossialisasi yang menekankan pada penggunaan hokum bertahap kesalahan yang dilakukan oleh individu.
Sosialisasi partisipasi : sosialisasi yang menggunakan pola imbalan – hokum.

Tahap sosialisasi :
Menurut George Hebert Mead
a)   Preparatory stage : tahap persiapan. Dimana pada tahap inii anak mulai melakukan kegiatan meniru tetapi tidak sempurna.
b)   Play stage : tahap meniru. Anak semakin sempurna meniru kegiatan orang tua.
c)   Tahap siap bertindak (game stage) : mulai memahami norma secara bertahap.
d)   Tahap menerima norma kolektif (generalized other) : seseorang sudah dianggap dewasa dan harus menerima norma yang berlaku.

teori Looking Glass menurut Charles H. Cooley
a)   Kita membayangkan bagaimana diri kita dihadapan orang lain.
b)   Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.
c)   Bagaiimana perasaan kita sebagai akibat penilaian tersebut.

Agen sosialisasi dan faktor yang mempengaruhi sosialisasi
Agen sosialisasi :
a)   Keluarga inti dan diperluas.
b)   Teman sebaya.
c)   Sekolah.
d)   Media massa.
Yang mempengaruhi :
e)   Kematangan fisik seseorang.
f)     Lingkungan atau sarana sosialisasi.
g)   Adanya keinginan yang kuat.

Interaksi sosial

Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan perorangan, antara kelompok dengan kelompok lain, dan antara kelompok manusia dengan individu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial.
a)   Imitasi : proses meniru orang lain, baik dalam hal sikap ataupun tingkah laku. Contohnya : meniru cara berpakaian, cara berbicara, dan berpidato seseorang.
b)   Sugesti : pendapat, pandangan, dan sikap yang diiberikan oleh seseorang kepada orang lain dan diterima oleh pihak lain. Contohnya : orang akan mmembeli produk kecantikan karena tersugesti akan menjadi putih.
c)   Identifikasi : kecendrungan-kecendrungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Contohnya : orang yang memiliki kemampuan atau kedudukan yang lebih tingga dapat dijadikan panutan atau teladan.
d)   Simpati : kecakapan untuk merasa diri seolah-olah dalam keadaan orang lain dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
e)   Motivasi : dorongan, rangsangan, pengaruh atau stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain.
f)     Empati : bentuk simpati yang mendalam.

Syarat interaksi sosial (soerjono Soekonto).
Kontak sosial :
Kontak positif : kontak yang mengarah ke bentuk kerjasama.
Kontak negative : kontak yang menorah kebentuk peperangan atau pertentangan.
Kontak primer : kontak yang terjadi secara langsung bertemu muka. Contohnya : penjual dan pembeli dipasar.
Kontak sekunder : kontak yang terjadi melalui perantara. Contaohnya : telepon, sms, dan surat.
Kontak sekunder langsung : pihak yang berinteraksi secra langsung dengan medianya.
Kontak sekunder tidak langsung : pihak yang berinterasi meminta bantuan orang lain atau media lain yang tidak berhubungan dengan komunikator.
Komunikasi :
Tahapan komunikasi adalah : encoding -> penyampaian -> menerima pesan
Unsure komunikasi :
1.    Komunikator : orang atau kelompok yang menyampaikan pesan.
2.    Komunikan : orang atau kelompok yang dikirim pesan.
3.    Pesan : sesuatu yang disampaikan oleh kommunikator.
4.    Media : alat untuk menyampaikan  pesan.
5.    Efek : perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan.

Bentuk-bentuk intekasi sosial (Gillin dan Gillin).
Proses asosiasif ; menciptakan perasaan dan mendorong interkasi sosial.
A.   Kerjasama (cooperation)
1.    Koalisi : kombinasi 2 organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama.
2.    Joint venture : kerjasama dalam pengusahaan proyek tertentu.
3.    Gotong royong : kerukunan.
4.    Bergaining : pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang atau jasa antara dua organisasi atau lebih.
5.    Kooptasi : penerimaan unsuur-unsur baru dalam kepemimpinan dan pelaksanaan polotik, organisasi sebagai satu-satunya cara untuk menghindari konflik yang bisa mengguncang organisasi.
Bentuk lain dari kerjasama :
1.    Spontan : kerta sama serta merta.
2.    Langsung : kerjasama hasil dari perintah atasan atau pengusaha.
3.    Kontrak : kerjasama atas dasar tertentu.
4.    Tradisional : kerjasama bagian unsure dalam system sossial, contahnya : gotong royong.
B.   Akomodasi :  usaha untuk meredakan ketegangan, diantaranya : koesif, kompromi, arbitrasi konsiliasi, toleransi, stalemate, dan ajudikasi.
C.   Asimilasi : berpadunya 2 budaya yang menghasilkan budaya baru sama sekali.

Faktor yang mempermudah asimilasi :
1.    Adanya sikap toleransi.
2.    Kesempatan yang seimbang dalam ekonomi.
3.    Sikap menghargai orang asing dan kebudayaan.
4.    Sikap terbuka dari golongan pengusaha dalam masyarakat.
5.    Persamaan dalam unsure kebudayaan.
6.    Perkawinan campuran (amalgamasi).
7.    Adanya musuh bersama dari luar.
Faktor yang memhalangi asimilasi :
1.    Terisolasi kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat.
2.    Kurangnya pengetahuan menganai kebudayaan yang dihadapi.
3.    Adanya perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi.
4.    Perasaan bahwa suatu golongan lebih tinggi dari pada golongan lain.
5.    Adanya perbedaan warna kuliat atau ciri badan.
6.    Adanya gangguan golongan minoritas tterhadap golongan lain.
7.    Adanya perbedaan kepentingan dan pertentangan pribadi.

D.   Akulturasi : interaksi dua budaya yang berbeda tanpa menghilangkan kebudayaan itu sendiri. Misalnya : music keronsong merupakan perpaduan antara music portugis dengan music Indonesia.

Proses disolasi : menciptakan perpecahan dan menghambat interaksi.
a)   Persaingan : perjuangkan sosial yang berlangsung secara damai.
b)   Kontroversi : penyangkalan, keraguan, penolakan yang tidak diungkapkan secara terbuka.
c)   Pertikaian : lanjutan dari kontravesi.
d)   Konflik : masing-masing pihak berusaha menyerang, melukai, dan memusnakan lawannya.

Mobilitas sosial

Pengertian Mobilitas menurut William kornblum ; perpindahan individu-individu, dan kelompok sosial dari suatu lapisan ke lapisan sosial yang lainnya. Menurut Michael S. Bassis : perpindahan keatas ke bawah dari lingkungan sosio ekonomi yang mengubah status sosial seseorang dalam masyarakat. Menurut H. Edward Ransford : perpindahan individu atau kelompok secara hierarki ke atas atau kebawah dalam lingkungan sosial. Menurut Kimball Young dan Raymound W.Mack : mobilitas adala struuktur sosial, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.

Jenis-jenis Mobilitas sosial :
Berdasarkan tipe :
a)   Mobilitas vertikal : perpindahan individu atau objek dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Sosial climbing : guru jadi kepala sekolah. Sosial sinking : penjabat dipecat dan dipenjara karena korupsi.
b)   Mobilotas horizontal : perpindahan individu atau kelompok dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya namun yang sederajat.
c)   Mobilitas lateral ; perpindahan seseorang, baik secara perorangan maupun kelompok, dari suatu unit wilayah dan secara tidak langsung mengubah status sosial seseorang.
d)   Mobilitas structural : perpindahan yang disebabkan oleh inovasi teknologi, urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, peperangan, atau kejadian-kejadian lain yang menyebabkan perubahan struktur dan jenis kelompok dalam masyarakat.
Berdasarkan ruang lingkup :
a)   Mobilitas intragenerasi : mobilitas sosial yang dialami seseorang dalam masa hidupnya, atau dengan kata lain mobilitas yang mengubah status sosial seseorang sepanjang usianya mulai dari lahir sampai meninggal dunia.
b)   Mobilitas antargenerasi : mobilitas sosial yang terjadi antara dua generasi atau lebih, atau mobilitas yang menyebabkan perbedaan status sosial yang dicapai seseorang dengan statusnya yang telah dicapai orang tuanya.

Faktor-faktor mobilitas sosial.
Faktor pendorong :
1.    Status sosial.
2.    Keadaan ekonomi.
3.    Situasi politik.
4.    Pertumbuhan penduduk.
Faktor penghambat :
1.    Perbedaan ras dan kepercayaan.
2.    Diskriiminasi kelas.
3.    Pengaruh sosialisasi yang sangat kuat.
4.    Kemiskinan.
5.    Perbedaan jenis kelamin.

Cara mobilitas sosial vertical.
a)   Perubahan standar hidup.
b)   Perubahan tempat tinggal.
c)   Perubahan tingkah laku.
d)   Bergabung dengan organisasi tertentu.
e)   Perkawinan.
Saluran mobilitas sosial vertical.
a)   PNS
b)   Angkatan bersenjata.
c)   Lembaga-lembaga keagamaan.
d)   Lembaga pendidikan.
e)   Organisasi atau perserikatan ekonomi.

Dampak mobilitas sosial.
a)   Mendorong seseorang untuk maju.
b)   Mempercepat perubahan sosial.
c)   Menimbulkan kecemasan dan ketenangan.
d)   Keretakan hubungan dalam kelompok primer.
e)   Menimbulkan pertentangan atau konflik seperti :
1)   Pertentangan antarpribadi.
2)   Pertentangan antar kelas.
3)   Konflik antar kelompok.

4)   Konflik antargenerasi.