Kamis, 27 Maret 2014

filsafat


Bukti pertama dari kelima bukti adanya Allah yang diberikan oleh Aquinas ialah bukti dari gerakan, yang juga terdapat didalama Aristoteles ( metaphysics, Buku 12; Psysics, Buku 8) dan digunakan oleh Maimonides dan Alvertue Agung. Melalui persepsi indrawi kita yahu bahwa benda-benda di dunia bergerak, dan gerakan ini merupakan kenyataan. Gerakan di sini simengerti di dalam pengertian luas, yaitu sebagai reduksi dari potensi ke aktus, dan Aquines, mengikuti aristoteles, berpendapat bahwa suatu benda tidak dapat direduksi dari potensi ke aktus kecuali oleh sesuatu yang telah berada didalam aktus. Dalam pengertian ini, “segala sesuatu yang bergerak digerakan olehsesuatu yang lain”. Bila yang lain itu juga bergerak, maka ia juga digerakan oleh pelaku yang lain. Karena seri tidak berhingga tidak mungkin, akhirnya kita sampai kepada sesuatu penggerak yang tidak digerakan, yaitu penggerak utama, “dan semua orang tahu bahwa penggerak itu adalah Allah.
Bukti kedua, yang diberi inspirasi oleh buku kedua dari Metaphysics nya Aristoteles, yang juga digunakan oleh Avicenna dan Albertus, juga berangkat dari dunia duniawi, tetapi kali ini dari tata atau seri sebab effisien. Tidak ada sesuatupun yang bisa menjadi sesuatu yang tertentu ini, benda tersebut harus ada sebelum dirinya sendiri. Sebaliknya, tidak mungkin untuk bergerak kedalam seri sebab-sebab effisien tanpa batas. Maka harus ada suatu sebab effisien pertama, “yang semua orang menyebutnya Allah”.
Bukti ketiga, yang diambil alih oleh Maimonides dari Avicenna dan diperkembangkan, mulai dari kenyataan bahwa beberapa pengada menjadi ada dan hilang, yang berarti bahwa mereka dapat ada dan dapat tidak ada, bahwa mereka kontingen dan tidak mutlak atau niscaya, sebeb seandainya mutlak mereka akan selalu ada dan tidak pernah menjadi ada ataupun musnah. Berdasarkan ini Aquinas berpendapat bahwa harus ada sesuatu pengada yang mutlak, yang menjadi alasan mengapa pengada-pengada kontingen bisa menjadi ada.
Bukti keempat, disarankan oleh penyelidikan di dalam Metaphysics Aristoteles dan pada hakekatnya berpendapat di dalam Agustinus dan Anselmus. Bukti ini mulai dari tingkat-tingkat kesempurnaan, kebaikan, kebenaran, dst., yang diketemukan di dalam benda-benda dunia ini, yang memungkin kan seseorang membuat perbandingan, misalnya, “ini lebih indah dari pada itu”, “ini lebih baik dari pada itu”. Dengan mengandaikan bahwa perbandingan seperti itu mempunyai dasar objektif, Aquinas berpendapat bahwa tingkat-tingkat kesempurnaan secara mutlak mengandaikan adanya sesuatu yang terbaik, paling benar, dst., yang juga merupakan pengada tertinggi.
Sejauh ini argumentasi hanya sampai kepada sesuatu yang secara relative terbaik. Bila seseorang dapat membuktikan bahwa benar-benar ada tingkat-tinggat kebenaran, kebaikan dan pengada, suatu hierarki pengada, maka harus ada satu pengada atau beberpa pengada yang tertinggi secara relative berdasarkan perbandingan. Tetapi ini tidak cukup untuk membuktikan adanya Allah. Maka Aquinas meneruskan berargumentasi bahwa apa yang tertinggi,  misalnnya di dalam kebaikan, harus merupakan sebab dari kebaikan didalam semua hal. Selanjutnya, sejauh kebaikan, kebenaran dan ada dapat ditukar, harus ada sesuatu pengada tertinggiyang merupakan sebab dari ada, kebaikan, kebenaran, dan dari semua kesempurnaan di dalam setiap pengada lain, “dan kita menyebut pengada ini Allah”.
Bukti kelima, merupakan bukti taologis. Menurut Aquinas, kita dapat mengamati bahwa benda-benda inorganic mempunyai tujuan tertentu dalam aktivitas mereka, dan Karena hal ini selalu atau sangat sering terjadi, maka aktivitas yang bertujuan tertentu itu tidak mungkin hanya berdasarkan kebetulan, tetapi harus merupakan hasil dari suatu maksud. Tetapi benda-benda inorganic tidak mempunyai pengetahuan : maka mereka tidak dapat mengarah kepada tujuan tertentu bila mereka tidak diarahkan oleh seseorang yang berbudi dan mempunyai pengetahuan, sebagaimana “ anak parah diarahkan oleh pemanahnya”. Maka ada suatu pengada yang berbudi, yang mengarahkan sama benda-benda kodrati pada suatu tujuan, “dan kita menyebut pengada itu Allah”. Pembuktian ini diberikan di dalam Summa Theologica.
Di dalam Summa coptra Gantile Aquines merumuskan pembuktian dengan cara yang sedikit berbeda. Dia mengatakan bahwa jika banyak hal dengan sifat-sifat yang berbeda dan bahkan bertentangan bekerjasama menuju suatu perwujudan dari suatu tatapan, hal ini tentu terjadi berkat penyebab atau penyelenggaraan yang berbudi, “dan kita menyebutnya Allah”.
Bila bukti yang diberikan di dalam Summa Thoelogics menekankan bertujuan intern dari benda inorganic, bukti yang diberikan di dalam Summa contra Gentiles lebih menekankan kerjasama dari banyak objek di dalam perwujudan dari tatanan atau harmoni dunia. Dari dirinya sendiri bukti mengarah kepada seorang ‘designer’ atau pemerintahan atau Arsitek dari alam semesta; penalaran lebih lanjut diperlukan untuk  memperlibatkan bahwa Arsitek ini adalah juga pencipta.

arikel ini dibuat di Jakarta Pusat (Tanah Abang) pada tanggal 27 maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar